Jumat, 01 September 2017

Keris dan Tombak Pusaka Peninggalan Kerajaan Mataram

Indonesia mempunyai beberapa macam pusaka, salah satunya keris. Keris yang merupakan  warisan budaya dunia ini memiliki kedudukan yang terhormat oleh masyarakat Jawa. Hampir setiap orang Jawa dahulu memiliki keris sebagai pusaka sekaligus identitas status sosial. Keris juga dipercaya mampu meningkatkan pamor pemiliknya. Selain keris, ada tombak pusaka yang juga menjadi senjata pusaka pada zaman dahulu.

Dari sekian banyak benda pusaka yang ada. Terdapat beberapa benda pusaka yang  melegenda, baik itu dari cerita maupun kekuatan yang tersimpan didalam senjata pusaka tersebut. Pusaka itu merupakan peninggalan dari tokoh-tokoh Mataram yang kini tersimpan di Kraton Yogyakarta. Berikut Keris dan Tombak Pusaka Peninggalan Kerajaan Mataram yang dipercaya memiliki kekuatan besar :

1. Kanjeng Kyai Ageng Kopek

Kanjeng Kyai Ageng Kopek

Kanjeng Kyai Ageng Kopek merupakan pusaka keris utama di lingkungan Kraton Yogyakarta. Pusaka ini hanya dipegang oleh Sultan yang tengah bertahta di Kraton Yogyakarta.Keris Kanjeng Kyai Ageng Kopek dipakai sejak Hamengkubuwono I hingga Hamengkubuwono X, pusaka ini selalu menyertain Raja semenjak keberadaan Belanda hingga Mataram bersatu dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia mengusir pemerintah kolonial Belanda. Keris ini adalah atribut atau simbol atas peran Sultan sebagai pemimpin spiritual dan kerajaan atau negara.

Kangjeng Kyai Ageng Kopek adalah keris peninggalan Sunan Kalijaga. Keris itu diberikan oleh Pakubuwono III pada 15 Februari 1755 di Lebak, Jatisari, dua hari setelah perjanjian Giyanti. Di Lebak itu, Pakubuwono III dan HB I untuk pertama kalinya bertemu. Karena saat penandatanganan perjanjian Giyanti, hanya dihadiri oleh perwakilan HB I dan pihak VOC, Nicolaas Hartingh, W van Ossenberch dan JJ Steenmulder.

2. Kanjeng Kyai Joko Piturun

Kanjeng Kyai Joko Piturun

Saat Pangeran Mangkubumi berada di Gunung Sindoro, ia melihat gundukan bulu burung. Setiap kali burung yang melintas di tempat itu, langsung jatuh, mati dan dimakan semut. Ia lalu membukanya, dan didapatinya sebilah keris.

Begitu GBPH Yudaningrat, adik HB X lain ibu, menceritakan asal muasal keris Kangjeng Kyai Joko Piturun. Kala itu, Pangeran Mangkubumi yang tak lain Sri Sultan Hamengku Buwono I lari ke Gunung Sindoro, karena dikejar-kejar oleh Belanda. Bersama istri dan prajuritnya, ia lalu masranggah (tinggal sementara) di Sindoro. Gundukan bulu itu dilihatnya ketika menyusuri gunung mencari makanan dengan berburu binatang untuk istrinya yang tengah mengandung.

Sejak HB I, keris itu diberikan ke calon penerus takhta. Joko yang berarti laki-laki dan piturun adalah turunan. “Jadi, piturun itu pasti laki-laki,” tandas KRT Jatiningrat, cucu HB VIII kepada Harianjogja.com di tempat terpisah.

Menurut Jatiningrat, pusaka itu disimpan di Bangsal Proboyekso, berada di sebuah kotak, dan tersusun rapi disusunan rak-rak dengan nomor registrasi yang telah ditentukan. Tidak sembarang orang dapat mengaksesnya.Kala HB X menggelar Dawuh Raja-mengganti nama GKR Pembayun menjadi GKR Mangkubumi, kata Yudaningrat, HB X mengenakan keris Joko Piturun. “Ngarsa Dalem ngagem Joko Piturun waktu Dawuh Raja [Sultan memakai Joko Piturun saat Dawuh Raja],” jelasnya.


Joko Piturun itu berada di tangah HB X ketika dinobatkan sebagai putra mahkota. Namun jauh sebelum penobatan, konon suatu siang, ketika usai jamasan rutin digelar di Kraton, HB X-lah yang kala itu dipasrahi HB IX untuk mengembalikan ke rak di Bangsal Proboyekso. “Mas Jun, simpan di Glodog (rak),” begitu kata Romo Tirun menirukan HB menyuruh anaknya yang memiliki nama kecil Herjuno Darpito itu. Momen ini konon disebut-sebut sebagai sinyal bahwa Herjuno dengan nama dewasa KGPH Mangkubumi pasti diangkat sebagai penerus takhta.

Menurut Jatiningrat, pada 1989 silam, saat penobatan, Mangkubumi adalah seorang pengawal Raja bersama puluhan prajurit. Kala itu pria kelahiran 1943 itu masih berusia 46 tahun. Ia berada di sisi kanan belakang HB X ketika duduk di singgasana Raja di Bangsal Manguntur Tangkil.

Kendati demikian, Jatiningrat tak melihat pasti adanya prosesi pemberian keris. Di sisi lain, proses penobatan putra mahkota tersebut tak berselang lama. Kurang lebih lima menit setelahnya, Mangkubumi yang bergelar Pangeran Adipati Anom Hamengku Nagoro Sudibyo Raja Putra Narendra ing Mataram langsung diangkat sebagai Raja bertakhta.

3. Kanjeng Kyai Pleret

Kanjeng Kyai Pleret

Pusaka ini merupakan tombak milik Danang Sutowojoyo atau Panembahan Senopati pendiri Kraton Mataran yang sekarang menjadi Kraton Yogyakarta. Konon ceritanya Kanjeng Kyai Pleret berawal dari air mani Syeh Maulana Maghribi. Pada saat itu Syeh Maulana Maghribi tidak sengaja melihat adik perempuan Sunan Kalijaga, yaitu Rasa Wulan yang sedang mandi di Sendang Beji. Air mani Syeh Maulana Maghribi kemudian menetes ke air sendang hinga Rasa Wulan menjadi hamil. Tetesan lainnya tiba-tiba mengeras dan kemudian berubah wujud menjadi mata tombak, dan ada juga yang bilang kalau Kanjeng Kyai Pleret ini diyakini berasal dari alat kelamin yang dicabut dari seorang wali sakti linuwih Syeh Maulana Maghribi, saat dituntut untuk menikahi Rasa Wulan, adik kandung Sunan Kalijaga. 

Saat ini Tombak Kanjeng Kiai Pleret masih tersimpan di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat (Yogyakarta). Pusaka ini dijamasi setiap setahun sekali saat bulan Syura.

4. Kanjeng Kyai Baru Klinting

Kanjeng Kyai Baru Klinting

Pusaka ini juga berupa tombak yang pernah digunakan abdi dalem bernama Ki Nayadarma untuk menumpas pemberontakan yang dipimpin Adipati Pati Pragola. Tombak ini berasal dari lidah seekor naga yang dipotong oleh Panembahan Merbabu kakek ki Ageng Mangir.

Kehebatan Tombak Baru Klinting teruji saat dipakai abdi dalem Sultan Agung yang bernama Ki Nayadarma sang Lurah Kapedak berperang tanding melawan Adipati Pati Pragola II yang memberontak terhadap kekuasaan Mataram. Tubuh sang Adipati yang dikenal tak mempan senjata tersebut akhirnya dapat dirobek oleh Tombak Baru Klinting yang dipakai Ki Nayaderma.

Cerita ini berawal dari Ki ageng Mangir yang menghukum anaknya Baru Klinting yang berwujud naga untuk melingkari Gunung Merapi. Akan tetapi, kurang sedikit lagi Baru Klinting menjulurkan lidahnya. Hal itu yang membuat Ki Ageng Mangir memotong lidah Baru Klinting dan kemudian menjadi sebuah mata tombak.

Saat ini Tombak Kanjeng Kiai Baru Klinting juga masih tersimpan di dalam Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. 

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

Related : Keris dan Tombak Pusaka Peninggalan Kerajaan Mataram

0 comments:

Posting Komentar