Selasa, 20 Juni 2017

6 Keris Pusaka yang Melegenda di Nusantara

6 Keris Pusaka yang Melegenda-Indonesia dikenal hidup dari banyak legenda di zaman dahulu kala. Legenda dan cerita rakyat itu terus bertahan hingga saat ini, melalui cerita dari mulut ke mulut yang hidup di tengah-tengah masyarakat dan diwariskan secara turun-temurun. Salah satunya, seperti kisah legenda mengenai keris pusaka Indonesia yang sangat terkenal di Pulau Jawa.

6 Keris Pusaka yang Melegenda di Nusantara

Beberapa kisah tersebut bahkan juga merupakan bagian dari sejarah panjang keberadaan Nusantara. Sehingga, sudah sewajarnya legenda-legenda tersebut terus dilestarikan, agar tidak hilang tertelan perkembangan zaman yang semakin pesat saat ini. Berikut ini ada lima keris pusaka Indonesia yang memiliki kisah legenda yang sangat terkenal.
1. Keris Pusaka Empu Gandring

6 Keris Pusaka yang Melegenda di Nusantara

Pada abab 11, di suatu tempat di Jawa Timur, Empu Gandring menerima tamu seorang pemuda dari daerah Tumapel. Pemuda itu bernama Ken Arok atau Ken Angrok. Ia memesan pada sang Empu, sebilah keris sakti. Empu Gandring menyanggupi akan menyelesaikan pesanan pemuda itu dalam 40 hari.

Sebelum hari ke empat puluh, Ken Arok datang ke besalen (bengkel kerja) Empu Gandring guna melihat sejauh mana kemajuan pekerjaan yang dilakukan oleh sang Empu. Dengan senang hati Empu Gandring memperlihatkan hasil karyanya. Begitu melihat keris itu, Ken Arok terkagum-kagum menyaksikan keindahan keris itu.. Menurut penilaiannya, keris itu sudah demikian sempurnanya, sehingga ia langsung meminta agar keris itu dapat segera dibawa pulang. Tetapi sang Empu melarang, katanya keris itu memang sudah selesai secara lahiriah, tetapi doa-doa dan mantera yang harus disertakan dalam pembuatan keris itu belum selesai. Oleh karena itu, Ken Arok diminta agar sabar menanti sampai setelah genap empat puluh hari.


Karena Ken Arok berkeras hendak membawa keris yang dianggapnya telah rampung itu, akhirnya timbul pertengkaran keras di antara mereka. Ken Arok memaksa, sedang Empu Gandring berkeras mempertahankannya. Ken Arok tak dapat lagi menahan amarahnya, sehingga keris itu ditusukkan ke tubuh Empu Gandring, sang Empu roboh dan sebelum meninggal ia pun mengucapkan kutukannya :

Dengarkan Ken Arok....., kau telah menganiaya orang yang kau mintai tolong. Kau bunuh aku dengan keris buatanku sendiri, Ingatlah....., kelak kau sendiri juga akan menjadi korban dari keris itu. Keris itu akan memakan korban tujuh nyawa...

Dalam dongeng dan dalam cerita yang dikisahkan oleh buku Pararaton, keris itu akhirnya memang mengambil tujuh korban, yang pertama Empu Gandring si pembuatnya sendiri, yang kedua Tunggul Ametung, awuku (kepala daerah) Tumampel, yang ketiga Kebo Ijo, orang yang difitnah oleh Ken Arok, yang keempat Ken Arok sendiri, belasan tahun sesudah ia menjadi Raja di Singasari. Korban kelima adalah Anusapati, anak tiri Ken Arok, yang keenam adalah Tohjaya, anak kandung Ken Arok, korban terakhir adalah Mahisa Wongateleng, salah seorang cucu Ken Arok. 

2. Kanjeng Kiai Sengkelat, Keris Sakti Kerajaan Majapahit

6 Keris Pusaka yang Melegenda di Nusantara

Pada abab ke-14, Keraton Majapahit gempar. Keris pusakan keraton Kanjeng Kiai Sengkelat hilang. Untuk mencarinya, Raja Majapahit menugasi Empu Supodriyo mencarinya. Sang Empu melaksanakan tugas itu dengan cara menyamar. Ia pergi ke Kadipaten Blambangan dan bekerja disana dengan nama samaran Empu Pitrang, karena hasil kerjanya baik, suatu saat Empu Pitrang diminta untuk membuat putran (duplikat) keris pusaka Blambangan. Sesudah melihat keris pusaka yang akan dibuatkan putrannya, Sang Empu yakin bahwa pusaka itulaj keris pusaka Majapahit yang hilang. Empu Pitrang menyanggupi tugas itu dengan syarat disediakan bahan baku yang cukup dan boleh dikerjakan di ruang tertutup.Bagi Adipati Blambangan, syarat itu bukan sesuatu yang menyulitkan. Sebuah besalen (bengkel keris) yang tertutup segera dibuatkan, sedemikian rupa hingga tak seorang pun dapat mengintip Empu Pitrang alias Empu Supodriyo kalau ia sedang bekerja.

Duplikat keris Kanjeng Kiai Sengkelat segera dibuat bukan hanya sebuah, tetapi sekaligus dua buah. Empu Pitrang mengisi kedua keris putran buatannya itu dengan tauh yang merugikan pemiliknya. Duplikat yang dua bilah itulah yang kemudian diberikannya kepada Adipati Blambangan. 

Keris putran yang satu diakukan sebagai keris asli dan satu lagi sebagai putran. Sedangkan keris pusaka Kanjeng Kiai Sengkelat yang asli disembunyikan. kemudian dibawa ke Majapahit. Keris yang memiliki tuah untuk kebaikan itulah yang akhirnya berada kembali di Keraton Majapahit. Atas jasanya menemukan dan mengembalikan keris pusaka kerajaan, Raja Majapahit memberinya anugerah gelar pangeran dan diberi hadiah tanah perdikan (bebas pajak) di Sendangsedayu. Bahkan konon Empu Supodriyo juga diangkat sebagai menantu Raja. Dalam dunia perkerisan, dialah yang di kemudian hari dikenal dengan nama Empu Pangeran Sendangsedayu. Anugerah sebesar itu diberikan Raja Majapahit karena kepercayaan akan tuah Kanjeng Kiai Sengkelat bagi kejayaan Majapahit.  

3. Keris Pusaka Naga Sasra Sabuk Inten

6 Keris Pusaka yang Melegenda di Nusantara

Keris Pusaka Nagasasra dan Sabuk Inten adalah dua benda pusaka berbeda peninggalan Raja Majapahit. Nagasasra adalah nama salah satu dapur keris luk tiga belas dan ada pula yang luk-nya berjumlah sembilan dan sebelas, sehingga penyebutan nama dapur ini harus disertai dengan menyatakan jumlah luk-nya agar tidak salah.

Pada keris dapur Nagasasra yang bagus, sebagian banyak bilahnya diberi kinatah emas, dan pembuatan kinatah emas semacam ini telah dirancang oleh sang empu sejak awal pembuatan. Pada tahap penyelesaian akhir, sang empu sudah membuat bentuk kinatah sesuai rancangan. Bagian-bagian yang kelak akan dipasang emas diberi alur khusus Berupa pamor, untuk “tempat pemasangan kedudukan emas” dan setelah penyelesaian wilah selesai, maka dilanjutkan dengan penempelan emas oleh pandai emas dari dalam kerajaan.

Salah satu pembuat keris dengan dapur Nagasasra terbaik, adalah karya empu Ki Nom, merupakan seorang empu yang terkenal, dan hidup pada akhir zaman kerajaan Majapahit…!!!

4. Keris Pusaka Kala Munyeng (Milik Sunan Giri)


Dalam Riwayat Prabu Brawijaya murka. Pengaruh Sunan Giri salah satu dari sembilan Wali Songo, dianggap sudah mengancam eksistensi Kerajaan Majapahit. Patih Gajahmada dan pasukannya lalu dikirim ke Giri untuk memberikan serangan, Penduduk Giri pun panik dan menghambur ke Kedaton Giri. Sunan Giri yang saat itu sedang menulis begitu terkejut dan pena (kalam) yang tengah digunakannya ia lontarkan ke arah pasukan Majapahit. Atas kehendak Sang Pencipta pena yang terlontar itu menjelma menjadi keris ampuh dan keris inilah yang memporakporandakan pasukan Majapahit.

Sunan Giri yang nama kecilnya adalah Raden Paku alias Muhammad Ainul Yakin tidak hanya dikenal sebagai penyebar agama Islam yang gigih. Tetapi juga pembaharu pada masanya. Pesantrennya, yang dibangun di perbukitan desa Sidomukti di selalan Gresik, tak hanya dipergunakan sebagai tempat pendidikan agama dalam arti sempit, tetapi juga menjadi pusat pengembangan masyarakat. Gin Kedaton, pesantrennya di Gresik, bahkan tumbuh menjadi pusat politik yang penting di Jawa kala itu. Ketika Raden Patah (Demak Bintaro) melepaskan diri dari kekuasaan Majapahit, Sunan Giri malah bertindak sebagai penasihat dan panglima militer Kesultanan Demak. Hal tersebut tercatat dalam Babad Demak. Pada perkembangan, nya kemudian, Demak tak lepas dan pengaruh Sunan Giri. Dan Sunan Giri diakui sebagai mufti, pemimpin tertinggi keagamaan setanah Jawa.

Meluasnya pengaruh Sunan Giri di Gresik membuat Prabu Brawijaya, raja Majapahit kala itu murka. la memerintahkan patihnya, Gadjah Mada, ke Gin Penduduk Giri ketakutan dan berlari ke kedaton Sunan, Babad Tanah jawa menuturkan, ketika itu Sunan Giri sedang menulis. Karena terkejut mendengar musuh berdatangan merusak Giri, pena (kalam) yang dipegangnya Beliau lontarkan. Sunan Giri kemudian berdoa pada Sang Pencipta. 

Ternyata kalam yang terlempar itu berubah meniadi keris berputar-putar, Keris dari kalam itu mengamuk dan banyak tentara Majapahit yang menyerbu Giri tewas, Sisanya kabur,berlarian kembali ke Majapahit. Dan keris dari kalam itupun dikisahkan kembali sendiri ke kedaton Giri, Tergeletak di hadapan Sunan dengan berlumuran darah.Sunan lalu berdoa pada Yang Maha Kuasa, dan mengatakan pada rakyat Giri bahwa kerisnya yang ampuh itu dinamai Kalam Munyeng.

Apakah keris Kalam Munyeng (pena yang berputar-putar) itu modelnya seperti keris yang pada masa kini populer dengan nama Kala Munyeng (raksasa yang berputar-putar), wallahu alam!!! Namun keris Kala munyeng juga termasuk keris yang amat tersohor Namanya di nusantara ini.

5. Keris Pusaka Kyai Condong Campur

Condong Campur adalah salah satu keris pusaka milik Kerajaan Majapahit yang banyak disebut dalam legenda dan folklor. Keris ini dikenal dengan nama Kanjeng Kyai Condong Campur. Keris ini merupakan salah satu dapur keris lurus. Panjang bilahnya sedang dengan kembang kacang, satu lambe gajah, satu sogokan di depan dan ukuran panjangnya sampai ujung bilah, sogokan belakang tidak ada. Selain itu, keris ini juga menggunakan gusen dan lis-lis-an. Condong Campur merupakan suatu perlambang keinginan untuk menyatukan perbedaan. Condong berarti miring yang mengarah ke suatu titik, yang berarti keberpihakan atau keinginan. Sedangkan campur berarti menjadi satu atau perpaduan. Dengan demikian, 

Condong Campur adalah keinginan untuk menyatukan suatu keadaan tertentu. Konon keris pusaka ini dibuat beramai-ramai oleh seratus orang mpu. Bahan kerisnya diambil dari berbagai tempat. Dan akhirnya keris ini menjadi keris pusaka yang sangat ampuh tetapi memiliki watak yang jahat.

Dalam dunia keris muncul mitos dan legenda yang mengatakan adanya pertengkaran antara beberapa keris. Keris Sabuk Inten yang merasa terancam dengan adanya keris Condong Campur akhirnya memerangi Condong Campur. Dalam pertikaian tersebut, Sabuk Inten kalah. Sedangkan keris Sengkelat yang juga merasa sangat tertekan oleh kondisi ini akhirnya memerangi Condong Campur hingga akhirnya Condong Campur kalah dan melesat ke angkasa menjadi Lintang Kemukus (komet atau bintang berekor), dan mengancam akan kembali ke bumi setiap 500 tahun untuk membuat huru hara, yang dalam bahasa Jawa disebut ontran-ontran.

6. Keris Pusaka Setan Kober

Keris setan kober ini dalam sejarah dibuat oleh mpu supo mandagri, beliau adalah keturunan seorang empu dari tuban. Dalam riwayat, Mpu supo memeluk islam dan berguru kepada sunan Ampel, sambil tetap membuat keris, Supo Mandagri adalah mpu sakti yang menjadikan karya nya begitu sangat terkenal antara lain Keris Kyai Sengkelat,dan Keris Kyai Nogo sosro dan setan kober ini sendiri, keris ini dulu bernama “Bronggot Setan Kober” di buat pada awal kerajaan islam demak Bintaro,kemudian keris ini di serahkan kepada Syekh Jafar Soddiq atau Sunan Kudus dalam perjalananya kemudian di berikan lagi kepada Arya penangsang.

Keris pusaka setan kober ini sangat ampuh sekali, tapi membawa hawa perbawa panas, sehingga sering membuat si pemakainya mudah marah, begitu juga dengan arya penangsang yang mudah emosi akibat pembawaan keris ini. keris inilah yang di gunakan arya penangsang untuk bertanding melawan sutawijaya yang memiliki tombak kyai pleret. Sampai detik ini, keris ini juga tidak di ketahui asli keberadaan nya, sama halnya dengan pusaka lain seperti mpu gandring, demikian juga pamor dan dapur asli ciri setan kober tidak diketahui asli dan model nya, alasan ini mungkin menjadi kuat karena keris ini memakan banyak sekali korban petinggi penting, jadi para empu mungkin tidak membuat mirip asli nya karena di yakini membawa sial atau bala sebab telah di anggap haus darah.

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

Related : 6 Keris Pusaka yang Melegenda di Nusantara

0 comments:

Posting Komentar