Sabtu, 17 Juni 2017

200 Keris Pusaka Paling Dicari Dalam Dunia Perkerisan


200 Keris Pusaka Paling Dicari - Untuk mengetahui apa saja 200 Keris Pusaka Paling Dicari terlebih dahulu anda harus memahami dapur keris pusaka. Dapur Keris adalah Bentuk atau Nama pada sebilah Keris, Semua Keris mempunyai Dapur. Seperti Keris Dapur Nogo Sosro, Sabuk Inten, Sengkelat, dll. yang semuanya mempunyai ciri khusus, misalnya Keris Sengkelat adalah Keris Luk 13 dengan Sogokan, Kembang Kacang, Jalen dan Lambe Gajah. Adapun nama nama Dapur Keris Pusaka diantaranya :

Dhapur Keris Pusaka Lurus

Keris lurus tidak sama dengan keris berluk satu, keris lurus tidak memiliki luk. Dalam bahasa Jawa sering disebut dengan istilah "Dhuwung Leres". Bentuk Dhapur keris lurus ini banyak sekali. Terbanyak dibandingkan dengan keris luk manapun, karena banyaknya, pada keris lurus inilah, banyak pula terjadi kesimpangsiuran soal nama dhapur. Kesimpangsiuran ini bukan soal sinonim nama dan istilah dari daerah satu dengan daerah lainnya, tetapi juga sampai pada perbedaan mengenai bentuknya.
Sebagaimana dijelaskan di muka, bahwa bentuk keris melambangkan maksud dan permohonan tertentu dari sang Empu, maka keris lurus pun secara umum mempunyai makna dan maksud tertentu pula. Oleh sang Empu, keris lurus dimaksudkan membawa perlambang permohonan pada Tuhan, agar pemilik keris lurus ini nantinya mendapatkan berkah Tuhan, menjadi orang yang teguh hatinya, tidak gampang tergoda, tidak mudah terpikat bujukan, sifat-sifat lugu, wajar, tidak neko-neko, apa adanya, dan mencerminkan kesederhanaan. Sebagian orang juga mengartikan bentuk dhapur keris lurus melambangkan "Ular Bertapa" atau Ulo Tapa.


1. Dhapur Tilam Upih 
Ricikan : gandhik pulos, pejetan, tikel alis. Dhapur Tilam Upih ini, ada yang menyebut Tilam Pethak dan ada pula yang menamakannya dhapur Tilam Putih.

2. Dhapur Tilam Sari
Ricikan : gandhik polos, pejetan, tikel alis dan kruwingan, tapi ada sebagian pendapat bahwa Dhapur Tilam Sari memiliki ricikan gandhik polos, pejetan, kruwingan, dan greneng. 

3. Dhapur Jalak Tilam Sari
Ricikan : gandhik polos, pejetan, tikel alis dan thingil. Ada sebagian orang yang mengatakan bahwa dhapur Jalak Tilam Sari itu tidak ada, yang ada hanya Jalak saja atau Tilam Sari saja.

4. Dhapur Jalak 
Ricikan : bilah agak pendek, lebar, gandhik polos, pejetan, tikel alis dan sogokan sepasang. Ada pula dhapur Jalak yang memakai thingil, yang paling populer adalah Jalak Budha, yakni keris dapur Jalak buatan jaman Budha yang usianya kurang lebih 1.000 tahun lebih.

5. Dhapur Brojol
Ricikan : gandhik polos tanpa ricikan, umumnya yang keris yang tua agak pendek dan lebar serta tipis bilahnya. Keris berdhapur Brojol pada umumnya memiliki pamor sederhana, tetapi keris muda, pamornya agak beraneka macam.

6. Dhapur Bethok
Ricikan : gandhik polos, tapi ukurannya agak panjang, tikel alisnya pendek, bilahnya umumnya agak pendek, lebar dan tipis. Keris dhapur Bethok ini, sepintas lalu mirip keris dhapur Jalak, bedanya hanya terletak pada sogokan serta thingil.

7. Dhapur Semar Bethak
Ricikan : gandhik berlubang pada bagian agak sebelah bawah, polos, hampir sama dengan keris dhapur Bethok, tetapi gandhiknya agak lebih pendek. Ada sebagian orang yang menyebut dengan istilah Semar Pethak atau Semar Putih.

8. Dhapur Mahesa Lajer
Ricikan : gandhiknya polos, panjang, ada pejetan, sebagian memakai greneng. Ada sebagian orang yang menyebutkannya dhapur Kebo Lajer, ada pula yang menyebutnya Kebu Lajer. Pada umumnya bilahnya lebar, tetapi panjangnya normal.

9. Dhapur Mahesa Teki
Ricikan : gandhik panjang, ada kembang kacang yang letaknya agak ke atas lambe gajah tiga, bilahnya agak lebar, pajang normal. Mahesa Teki biasa juga disebut dengan dhapur Kebo Teki, kembang kacangnya biasanya agak kecil.

10. Dhapur Ron teki 
Ricikan : gandhiknya panjang, pakai kembang kacang dan lambe gajah, sogokan satu, hanya di bagian depan saja. Ukuran bilahnya normal, dhapur Ron Teki ini pada umumnya terdapat pada keris-keris tua, jarang keris muda yang dhapurnya Ron Teki.

11. Dhapur Pinarak
Ricikan : gandhiknya tergolong panjang sekali, memiliki sepasang sogokan, bentuk bilahnya agak aneh. Kerisnya cenderung membungkuk, seperti bentuk bilah pedang Suduk Maru, tapi ke dua sisi bilah tajam. Dhapur Pinarak umumnya juga hanya terdapat pada keris tua.

12. Dhapur Laler Mengeng I
Ricikan : gandhik panjang, tapi tak sepanjang gandhik keris dhapur Pinarak. Pakai kembang kacang, pogok. Nama dhapur Laler Mengeng ini agak simpang siur, berikut kami muat juga dhapur Laler Mengeng versi satu lagi, entah mana yang benar.

13. Dhapur Laler Mengeng II
Ricikan : gandhik biasa, pakai pejetan, pakai kembang kacang, tapi bentuk kembang kacang itu tidak normal. Dia melingkar menghadap ke atas. Ukuran bilahnya lebar, semuanya normal. Sulit untuk menentukan di antara kedua dhapur ini yang benar, karena keris ini langka.

14. Dhapur Jalak Sumelang Gandring
Ricikan : gandhik polos ukuran normal, sogokan hanya satu di depan, sraweyan, greneng. Tapi ada pula yang tidak memakai sraweyan, melainkan memakai thingil. Keris Jalak Sumelang Gandring ini merupakan keris terkenal dalam dongeng keris jaman majapahit.

15. Dhapur Kala Muyeng
Ricikan : gandhiknya normal, polos, sogokan hanya satu di depan saja. Pakai Srawean dan Ri Pandan. Keris dhapur Kala Muyeng disebut pula keris dhapur Kala Munyeng. Keris dhapur ini juga sering disebut-sebut dalam  legenda dan dongeng tentang keris.

16. Dhapur Marak
Ricikan : gandhik normal, polos, sogokan hanya satu di depan, pakai greneng lengkap, walaupun bentuknya sederhana, keris dhapur Marak ini tergolong langka. Sogokan satu di depan yang terdapat pada keris dhapur Marak dan umumnya tidak begitu dalam.

17. Dhapur Mayat Miring
Ricikan : gandhik polos ukuran normal, sogokannya juga hanya satu, tapi di bagian belakang. Biasanya pakai gusen, tapi ada  juga yang tidak. Dhapur seperti ini ada pula yang menyebut dhapur Mayat Miri.

18. Dhapur Lar Ngantap
Ricikan : gandhik normal, polos, sogokan dua, panjang sekali sampai ke dekat ujung bilah. Selain itu tidak ada ricikan lainnya. Ada pula yang sogokannya itu, panjangnya 5 cm dari ganja ke bilah. 

19. Dhapur Panjinom
Ricikan : gandhik polos, pakai tikel alis, sogokan dua, sraweyan dan greneng. Dhapur Panjinom ini, juga ada yang menyebutkan Panji Anom, ada juga yang mengatakan Panjinem. Biasanya keris dhapur Panjinom ini, bilahnya agak tebal, nggigir limpa.

20. Dhapur Mangkurat
Ricikan : gandhik polos ukuran biasa, pakai sogokan dua, pakai gusen, sraweyan, dan ri pandhan. Dhapur ini juga ada yang menyebut Amangkuratan atau Mangkuratan. Bilah kerisnya, pada  umumnya juga agak tebal, nggigir limpa atau nggigir kebo. 

21. Dhapur Panji Penganten
Ricikan : gandhiknya polos, ukurannya normal, pakai sogokan dua, sraweyan dan rondho nunut. Jadi sepintas lalu mirip sekali dengan keris dhapur Panjinom. Dhapur Panji Penganten ini, tergolong jarang dijumpai, langka.

22. Dhapur Jalak Sangu Tumpeng
Ricikan : gandhik polos, ukuran normal, sogokannya dua, sraweyan dan thingil. Tapi pada keris tua, thingil ini sering sudah aus, sehingga tidak begitu jelas. Keris dhapur Jalak Sangu Tumpeng ini populer karena dipercaya membawa tuah memudahkan mencari rejeki.

23. Dhapur Dungkhul atau Dhukul
Ricikan : tikel alis, gandhik polos, sogokan satu depan, ganja kelap lintah. Biasanya bagian gandhiknya agak lebih panjang dibandingkan dengan dhapur Tilam Upih. Keris berdhapur Dungkul ini punya sifat menentramkan, baik dipakai oleh orang yang pemarah dan suka nekad.

24. Dhapur Kelap Lintah
Ricikan : hampir sama dengan ricikan pada dhapur Brojol, yakni ghandiknya polos, pejeten, tanpa ricikan lain. Tanda  khususnya adalah ganjanya yang berbentuk kelap lintah. Ujung-ujung  ganjanya mencuat ke atas, dhapur Kelap Lintah ini biasa dipakai oleh prajurit atau seorang pemimpin.

25. Dhapur Yuyu Rumpung
Ricikan : gandhik panjang di belakang, panjang sekali, hampir setengah bilah. Bagian yang biasa terdapat gandhik, justru tajam. Ganjanya kelap lintah. Sepintas terlihat seperti pedang dapur Suduk Maru, yang pendek kecil. Dhapur Yuyu Rumpung ini termasuk jarang dan langka.

26. Dhapur Condong Campur
Ricikan : pakai kembang kacang, lambe gajah, sogokannya hanya di depan, tetapi panjang sampai ujung bilah, pada  bagian bilah ada gusennya. Keris dhapur Condong Campur ini, biasanya hanya dimiliki oleh mereka yang menduduki posisi dan jabatan pimpinan, termasuk dhapur keris yang langka.

27. Dhapur Jaga Upa atau Jaka Upa
Ricikan : mirip dengan ricikan Tilam Upih, gandhiknya polos, pejetan, tikel alis dan pakai sogokan dua, pendek, sogokan ini hanya separuh dari panjang sogokan yang normal. Panjang bilahnya juga normal, keris berdhapur Jaka Upa ini, biasanya juga dipakai oleh kalangan prajurit.

28. Dhapur Karna Tinanding
Ricikan : bentuk bilah simetris, tetapi tetap condong ke depan, kembang kacang dua, lengkap dengan lambe gajah dan jalen, memiliki dua sogokan yang simetris. Ganja Karna Tinanding ini tidak memakai sirah cecak , kedua ujungnya meruncing, merupakan buntut yang berbentuk uceng mati.

29. Dhapur Sepang
Ricikan : bentuk bilah juga simetris, tetapi tanpa kembang kacang, tanpa sogokan, jadi kedua tepi bilah pada bagian sor-soran manajam. Ganjanya juga mirip ganja dhapur Karna Tinanding, tetapi ada  beberapa jenis dhapur Sepang yang ganjanya merupakan ganja wilut.

30. Dhapur Regol
Ricikan : bentuk bilah masih tetap simetris dengan dua gandhik polos, pejetannya melebar sehingga gandhiknya sempit, ukuran panjang gandhiknya normal. Selain itu, tanpa ricikan apa-apa. Dhapur Regol ini jarang dijumpai, tergolong langkah. Dhapur Regol biasanya memiliki fungsi sebagai penjaga.

31. Dhapur Jalak Ruwoh atau Jalak Nguwuh
Ricikan : gandhik polos, panjangnya normal, ada thingil, pejetan dan gusen, bagian ada-ada tampak jelas mengalir sampai ke ujung bilah, tanpa tikel alis. Dhapur Jalak Nguwuh ini sering dikelirukan dengan dhapur Tilam Sari. Tergolong dhapur keris yang langka.

32. Dhapur Sempaner atau Sempana Bener
Ricikan : kembang kacang, lambe gajah, jalen, tikel alis dan ri pandhan. Dhapur sempaner ini di daerah jogjakarta ke barat biasa disebut dengan sebutan Sempana saja. Dhapur Sempaner ini sering dijumpai karena jumlahnya relatif cukup banyak. Beberapa dhapur Sempaner tidak hanya pakai ri pandhan, tetapi greneng lengkap.

33. Dhapur Jalak Dhinding
Ricikan : gandhik polos, ukuran normal, pakai pejetan dan thingil serta gusen, tanpa tikel alis. Sepintas lalu dhapur jalak Dhinding ini mirip dengan keris dhapur Tilam Sari. Perbedaan utama terletak pada gusen. Umumnya bilah kerisnya berukuran tebal.

34. Dhapur Jalak Ngore
Ricikan : gandhik polos, pejetan, sraweyan dan greneng, tanpa tikel alis. Dhapur Jalak Ngore inipun mirip dengan Tilam Sari. Bilahnya tipis, dhapur keris ini jarang dijumpai pada keris-keris tua, umumnya bilahnya juga agak tebal.

35. Dhapur Jalak Ngucup Madu atau Jalak Madu
Ricikan : gandhik polos, ukuran normal, pejetan dan greneng, pakai sogokan satu di depan, sogokan ini tidak terlalu dalam dan agak pendek, pakai tikel alis. Jalak Madu juga tergolong dhapur keris yang langka, jarang ditemui.

36. Dhapur Jamang Murup
Ricikan : ghandik polos, ukuran normal, pakai pejetan, sogokan dua tapi pendek, ukuran sogokannya hanya sekitar separuh dari ukuran normal. Ricikan lainnya tak ada, dhapur Jamang Murup banyak dijumpai pada  keris-keris tangguh pajang, keris dhapur ini termasuk juga keris langka.

37. Dhapur Mendarang atau Mundarang
Ricikan : kembang kacang, lambe gajah dua, pakai sogokan dua, jalen, sraweyan dan greneng lengkap. Sepintas lalu mirip dengan dhapur Kala Misani. Dhapur Mundarang ini biasa digunakan oleh prajurit.

38. Dhapur Tumenggung
Ricikan :  kembang kacang, lambe gajah satu, jalen, sraweyan, greneng, tanpa sogokan. Sepintas lalu mirip dengan dhapur Mundarang. Dhapur Tumenggung ini biasa dipakai oleh mereka yang menduduki posisi pimpinan. Tergolong dhapur keris yang langka.

39. Dhapur Pasopati
Ricikan : kembang kacang pogok, lambe gajah dua, sogokan dua, ri pandhan dan gusen. Ada pula pasopati yang tanpa gusen. Ada pula pasopati yang tanpa gusen, biasanya yang  dari tangguh tua. Pada umumnya keris dhapur pasopati bilahnya agak tebal. Dhapur pasopati kebanyakan memang dari tangguh muda.

40. Dhapur Mesem
Ricikan :  lambe gajah dua, kembang kacang, tanpa tikel alis, tanpa sogokan dan bagian belakang juga polos tanpa greneng. Dhapur Musem ini banyak terdapat pada keris tangguh Tuban dan Mataram. Sebagian dhapur Mesem, ujung bilahnya mucuk bung. 

41. Dhapur Wora Wari
Ricikan :  kembang kacang, lambe gajah dua, jenggot, greneng lengkap, kruwingan dan tikel alis. Sepintas lalu mirip dengan dhapur Sempaner, perbedaan yang pokok adalah pada jenggot di atas kembang kacang, keris dhapur Wora Wari juga tergolong langka.

42. Dhapur Sinom
Ricikan : kembang kacang, lambe gajah dua, sraweyan, ri pandhan, sogokan dua. Keris dhapur Sinom biasa diberikan kepada pemuda yang baru mulai bekerja dengan harapan agar dia bisa diterima ditempat kerjanya dengan baik. Sepintas lalu, keris dhapur Sinom agak mirip dengan dhapur Kalamisani.

43. Dhapur Jaka Lola
Ricikan : pejetan, tikel alis, ada-ada sampai ke ujung bilah. Keris dhapur Jaka Lola ini ada pula yang menyebut dhapur Jaga Lola. Sepintas lalu mirip dengan dhapurTilam Upih, bedanya hanya pada  ada-ada. Keris dhapur Jaka Lola ini umumnya berpamor Ujung Gunung.

44. Dhapur Mahesa Kanthong
Ricikan : gandhik panjang sekali, sampai ke pertengahan bilah. Di atas gandhik ada kembang kacang kecil, tanpa jalen. Selebihnya tak ada ricikan lainnya. Keris dhapur Mahesa Kanthong biasanya berbilah pipih. Keris ini tergolong keris yang langka. 

45. Dhapur Semar Tinandu
Ricikan : kembang kacang dua buah, kiri dan kanan, simetris, sogokan dua, simetris, lambe gajah dan jalen masing-masing juga, kiri dan kanan, simetris. Bilahnya agak pendek, mirip dengan bilah dhapur Bethok. Dibandingkan dengan bilah keris pada umumnya, dhapur Semar Tinandu lebih lebar bilahnya.

46. Dhapur Cengkrong
Ricikan : gandhik polos, panjang sekali, sampai setengah panjang bilah, tanpa ricikan lain. Bentuk bilah amat membungkuk. Bilah keris dhapur Cengkrong pada umumnya tebal. Tergolong keris yang langka. Keris ini biasanya dimiliki oleh ulama atau mubaligh.

47. Dhapur Naga Tapa
Ricikan : Gandhik kepala naga, badan naga menghilang dalam tengah keris, menjadi ada-ada. Ada yang memakai thinggil di belakang, ada pula yang tidak. Keris dhapur Naga Tapa biasa dipakai oleh orang yang menduduki posisi pimpinan. Keris ini tergolong keris yang langka.

48. Dhapur Kikik
Ricikan : gandhik menyerupai anjing duduk dengan kaki depan terukir jelas. Selabihnya tanpa ricikan apa-apa. Ada beberapa jenis Kikik yang memakai thingil di belakang. Dhapur Kikik ini sering disalah sebutkan sebagai Naga Kikik, padahal jelas tidak ada naganya.

49. Dhapur Puthut
Ricikan : gandhik menggambarkan semacam arca manusia sedang duduk. Ada yang mengatakan, itu sebagai penggambaran seorang pendhita muda (puthut) yang sedang bertapa. Ricikan lain tidak ada. Biasanya bilahnya lebar dan agak pendek dibandingkan dengan bilah keris yang normal.

50. Dhapur Puthut Kembar
Ricikan : gandhiknya di depan dan belakang, simetris keduanya menggambarkan arca puthut saling membelakangi. Bilahnya juga lebar dan agak pendek, seperti yang terdapat pada bilah dhapur keris Bethok. Puthut dan Puthut Kembar banyak dijumpai pada keris-keris tangguh tua.

51. Dhapur Makara
Ricikan : gandhiknya menggambarkan kepala raksasa dengan mahkota pendek, semacam mahkota yang biasa dipakai Adipati Karna dalam pewayangan. Selebihnya tidak ada ricikan apa-apa. Dhapur Makara ini amat jarang, beberapa diantaranya pernah penulis jumpai memakai kinatah emas pada mahkotanya.

52. Dhapur Jalak Makara
Ricikan : gandhiknya menggambarkan kepala raksasa dengan mahkota pendek, ada sogokan dua dengan ukuran normal. Selebihnya tak ada ricikan lain. Keris ini termasuk dalam keris dari dhapur yang langka. Bentuk makara pada gandhik biasamya ditatah dengan halus sekali.

53. Dhapur Manglar Munga
Ricikan : gandhiknya menggambarkan kepala seekor gajah dengan belalai membentuk seperti kembang kacang. Di belakang telinga gajah, ada sayap mengurai ke belakang. Biasanya sayap ini dengan pilin kepala gajah kinatah emas. Hanya ada pada keris tangguh Mataram dan sesudahnya. 

54. Dhapur Turangga
Ricikan : gandhiknya menggambarkan kepala seekor kuda sampai ke batas lehernya, rambut surinya melambai ke belakang. Biasannya jambul dan suri rambutnya dan kinatah emas. Selebihnya tak ada ricikan lainnya. Keris dengan dhapur Turangga ini amat langka dan hanya terdapat pada keris tangguh muda.

55. Dhapur Sujen Ampel
Ricikan : kembang kacang dengan jenggor, ri pandhan bersusun rangkap, lambe gajah dua, badan bilah tebal sekali dengan permukaan bilah nggigir lembu. Keris ini tergolong langka dan hanya ada pada keris tangguh muda dan biasanya dipergunakan oleh prajurit.

56. Dhapur Lingiran Tiga
Ricikan : gandhik polos, pejetannya dangkal, bungkulnya besar dan dilanjutkan menjadi ada-ada yang  membukit pada salah satu sisinya (biasanya sisi kanan), sedang pada posisi kiri sebaliknya datar biasa, dengan demikian maka potongan penampang lintang bilah kerisnya menjadi mirip segi tiga.

57. Dhapur Lar Ngatap
Ricikan : gandhiknya polos, agak panjang, tapi tidak sepanjang gandhik pada dhapur Mahesa Lajer, pejetannya dangkal, badan bilah di atas gandhik menyempit, tetapi pada pertengahan bilah melebar, kemudian menciut lagi, lebar bagian tengahnya di atas ukuran normal.

58. Dhapur Singo Barong
Ricikan : gandhik menggambarkan seekor singa jantan dengan phallus mencuat ke depan. Penggambaran singa mirip kilin atau singa kelenteng cina. Di bagian belakang ada yang memakai greneng lengkap, ada pula yang polos. Dhapur Singa Barong biasanya kinatah emas.


Ada yang berpendapat bahwa Keris Luk Satu ini sebenarnya tidak ada, yang ada hanya keris atau keris luk tiga, luk lima dan seterusnya, namun sebagian lagi berpendapat bahwa keris luk satu ada dan tidak ada alasan untuk tidak ada. Tapi keris luk satu memang langka dan dhapur keris luk satu ini tidak banyak variasinya. Di bawah ini akan dijelaskan jenis-jenis keris luk satu.

1. Dhapur Kayun atau Kanyun
Ricikan : Gandhiknya polos, tanpa greneng, bilahnya agak tebal, ukuran panjangnya normal, ada yang pakai thingil, tetapi kebayakan polos tanpa grenen. Dhapur Kayun ini amat jarang ditemui. Garapan kerisnya biasanya sederhana.

2. Dhapur Manthang
Ricikan : pakai kembang kacang, lambe gajah dua, jalen, dan jalu memet dan di belakang pakai thingil. Bilahnya lebih pipih dari dapur kayun, dan panjang bilahnya normal. Dhapur Manthang ini juga langka dan jarang sekali ditemui.

 Keris Pusaka Luk Tiga

Dari bentuknya, secara garis besar, ada dua jenis keris yaitu keris lurus dan keris ber-luk, sebagai senjata fisik, keris lurus berfungsi murni sebagai senjata tusuk dan sabet, menjadi senjata yang diandalkan untuk menusuk dan merobek tubuh lawannya dan seperti kebajakan senjata tarung lainnya, racun pada  keris akan sangat menyakiti lawan dan bahkan bisa membunuh walaupun hanya tergores sedikit saja.

Tidak demikian dengan keris ber-luk. Keris ini selain sebagai senjata tusuk dan sabet, bentuk luknya juga berguna untuk menahan dan menangkis senjata lawan, tidak mudah patah bila berbenturan menangkis senjata lawan dan menghasilkan luka yang lebih lebar dan lebih parah bila berhasil menusuk lawan.  

Makna spiritual dalam pembuatan keris Luk satu dan Luk tiga hampir sama yaitu sebagai lambang kedekatan manusia dengan Sang Pencipta dan juga sebagai sarana membantu mempercepat tercapainya keinginan-keinginan sang pemilik keris. Dibandingkan keris Luk 1, kegaiban di dalam keris luk 3 lebih dapat menyesuaikan diri dengan kondisi psikologis si manusia pemilik keris. Hawa aura energinya juga biasanya lebih halus dan lebih lembut

1. Dhapur Dhuwung
Ricikan Luk Tiga : gandhik polos, tanpa sogokan, tanpa greneng, bilahnya datar tanpa ada-ada. Keris dhapur Dhuwung ini termasuk langka, pemiliknya biasanya mereka yang masih tergolong muda, baik yang masih belum bekerja mau yang sudah.

2. Dhapur Wuwung
Ricikan Luk Tiga : gandhik polos tanpa sogokan, tanpa greneng, jadi hampir sama dengan keris dhapur Dhuwung, bedanya pada dhapur Wuwung, bilahnya pakai ada-ada yang cukup jelas. Bahkan kebanyakan bilahnya nggigir lembu, keris dhapur Wuwung ini termasuk dhapur langka.

3. Dhapur Mahesa Nempuh
Ricikan Luk Tiga : gandhik polos, pakai greneng, biasanya bilahnya agak tebal, tapi ada-adanya tidak jelas. Dhapur Mahesa Nempuh juga tergolong dhapur yang jarang ditemui. Biasanya dimiliki oleh mereka yang masih aktif bekerja atau masih belajar.

4. Dhapur Tebu Sauyun
Ricikan Luk Tiga : gandhiknya polos, pakai sraweyan dan pakai greneng. Dhapur Tebu Sauyun ini, agak sering dijumpai dari ke dua dhapur di atas.

5. Dhapur Urubing Dilah atau Damar Murub
Ricikan Luk Tiga : gandhik polos, pejetan, tikel alis dan greneng. Ke tiga luk dimulai dari sekitar tiga per empat panjang bilah sampai ke ujung. Dhapur keris Urubing Dilah ini biasa dipakai oleh orang-orang yang dituakan oleh masyarakat sekitarnya. 

6. Dhapur Jangkung
Ricikan Luk Tiga : kembang kacang, sogokan dua, lambe gajah dua, jalen, jalu memet, dan kruwingan memanjang sampai dekat ujung bilah. Keris dhapur Jangkung ini banyak diberikan untuk pemuda yang punya cita-cita tinggi, karena bentuknya membawa pertimbangan terhindar dari godaan.

7. Dhapur Jangkung Mangkurat atau Segoro Winotan
Ricikan Luk Tiga : kembang kacang, lambe gajah dua, jalen, dan jalu memet, sogokan dua, yang depan sampai ujung bilah dan yang belakang normal, greneng. Dhapur Jangkung Mangkurat ini sering dipakai oleh pejabat yang punya kekuasaan, agar lebih langgeng.

8. Dhapur Campur Bawur
Ricikan Luk Tiga : kembang kacang, lambe gajah, dua jalen dan jalu memet serta jenggot, sogokan dua. Luk pertama dimulai dari tengah-tengah bilah. Keris dhapur Campur Bawur ini juga jarang dijumpai karena agak langka.

10. Dhapur Bango Dolog
Ricikan Luk Tiga : kembang kacang, lambe gajah dua, jalen dan jalu memet, tanpa sogokan, dan tanpa greneng. Biasanya luk pertama dimulai dari tengah-tengah bilah.

11. Dhapur Mahesa Nabrang
Ricikan Luk Tiga : kembang kacang, lambe gajah, jalen, jalu memet dan greneng. Bentuk keris dhapur Mahesa Nabrang ini dipercaya membawa perlambang untuk terus maju dan menghilangkan sikap ragu.

12. Dhapur Jangkung Cinarita
Ricikan Luk Tiga : kembang kacang, jalen, jalu memet, tikel alis, pejetan, greneng lengkap dan sogokan dua.

13. Dhapur Jangkung Pacar
Ricikan Luk Tiga : kembang kacang lambe gajah dua, jenggot, sogokan dua, sogokan depan panjang sampai ke ujung bilah, dan tanpa greneng. Sepintas dhapur keris Jangkung Pacar ini mirip dengan Jangkung Mangkurat, bedanya terletak pada greneng.

14. Dhapur Mahesa Soka
Ricikan Luk Tiga : kembang kacang, jalen, lambe gajah, sogokan dua, keduanya memanjang terus sampai ke ujung bilah. Ada yang memakai jenggot dan ada pula yang tidak memakai jenggot. Keris dhapur Mahesa Soka tergolong jarang dijumpai.

15. Dhapur Mayat Luk Tiga
Ricikan Luk Tiga : kembang kacang, lambe gajah dua, greneng, sraweyan, sogokan hanya satu, di belakang, ukurannya normal. Sogokan di depan disebut Sogokan Warung atau Sogokan Cupet. Jadi hanya merupakan sudut sempit di pojok Blumbangan saja. Keris ini disebut dengan Mayat Luk Tiga karena ada dhapur Mayat saja yang lurus dan Dhapur Mayat Miring.

16. Dhapur Manglar Munga
Ricikan Luk Tiga : gandhiknya berupa gambar patung gajah bersayap dengan buntut menyerupai ekor naga pendek. Ricikan lainnya yaitu greneng ataua ri panda bersusun. Beberapa dhapur Manglar Munga, bagian kepala gajah dan sayap serta buntutnya ditatah dengan hiasan emas/kinatah emas.

17. Dhapur Naga Lumaksa
Ricikan Luk Tiga : gandhiknya berupa gambar kepala naga dengan dada naga menyentuh bagian ganja, kemudian badannya ke atas mengikuti luk bilah. Pada wadidang terdapat ri pandha susun atau greneng. Ada pula yang hanya thingil. Dhapur Naga Lumaksa tergolong dhapur langka.

18. Dhapur Naga Siluman Luk Tiga
Ricikan Luk Tiga : sama dengan di atas, yang membedakan pada gandhik hanya gambar kepala naganya. Badan dan ekor tak terlihat, menyatu dengan badan bilah.

19. Dhapur Liman Luk Tiga
Ricikan Luk Tiga : sama dengan di atas, hanya di bagian gandhik dan bagian tengah sor-soran terdapat gambar gajah secara utuh lengkap dengan kaki depan, belakang dan ekornya. Biasanya gambar gajah ini kinatah emas, bahkan ada yang  dihias dengan intan atau berlian, ricikan lainnya yaitu greneng. 

Keris Pusaka Luk 5

Pada jaman kerajaan dulu di jawa, keris-keris ber-luk 5 hanya dimiliki oleh raja, pangeran dan keluarga raja, dan para bangsawan. Selain mereka, tidak ada orang lain yang boleh memiliki atau menyimpan keris ber-luk 5. Demikian aturan yang berlaku di masyarakat perkerisan jaman dulu. Keris ber-luk 5 hanya boleh dimiliki oleh orang-orang keturunan dan bangsawan kerabat kerajaan, memiliki kemapanan sosial dan menjadi pemimpin masyarakat. Dengan kata lain, keris ber-luk 5 merupakan keris keningratan.

Biasanya keris-keris ber-luk 5 dibuat untuk tujuan memberikan tuah yang menunjang wibawa kekuasaan dan supaya pemiliknya dicintai dan dihormati banyak orang. Keris-keris jenis ini diciptakan untuk menjaga wibawa dan karisma keagungan kebangsawanan, keningratan, dihormati dan dicintai rakyatnya/bawahannya, dan menyediakan kesaktian yang  diperlukan untuk menjaga wibawa kebangsawanan itu.

Sesuai tujuan awal pembuatannya yang hanya untuk dimiliki oleh kalangan ningrat, sampai jaman sekarang pun, keris-keris ber-luk 5 mengisyaratkan manusia pemiliknya adalah seorang keturunan bangsawan. Jika pemiliknya adalah orang yang tidak memiliki garis keturunan bangsawan, maka keris-keris itu hanya akan diam saja, pasif tidak memberikan tuahnya.

Pada jaman sekarang, jenis keris luk 5 ini masih memberikan tuahnya hanya jika keris-keris ini dimiliki oleh orang-orang dengan garis keturunan ningrat. Kondisi tersebut menjadikan keris-keris keningratan sebagai keris-keris khusus yang tidak semua orang cocok memilikinya dan tidak semua orang bisa mendapatkan manfaat dari keris-keris ini. Pada umumnya  keris-keris ber-luk 5 lebih menuntut untuk diberikan sesaji dibandingkan keris lurus dan keris ber-luk lainnya.


1. Dhapur Pulanggeni
Ricikan Luk Lima : Gandhik polos, Sraweyan, dan Grendeng. Dhapur keris Pulanggeni ini cukup banyak dijumpai.

2. Dhapur Kebo Dhengen
Ricikan Luk Lima : Gandhiknya Polos dengan dua sogokan, tanpa greneng dan ricikan lainnya. Ada yang berpendapat bahwa dhapur Kebo Dhengen harus bolong/tembus sogokannya, tapi ada yang berpendapat tidak perlu asal ada sogokan.

3. Dhapur Pendawa
Ricikan Luk Lima : gandhiknya polos, pakai sogokan dua, pakai sraweyan dan greneng lengkap.

4. Dhapur Pendawa Lare
Ricikan Luk Lima : kembang kacang, jalen, lembe gajah dua, ri pandhan, tanpa sogokan, tanpa blumbangan.

5. Dhapur Pendawa Cinarita atau Pendawa Carita
Ricikan Luk Lima : kembang kacang, lambe gajah dua, jalen, jalu memet, tikel alis, sogokan dua, kruwingan, gusen dan sraweyan serta greneng lengkap. Ada yang memakai ada-ada dan ada yang tidak.

6. Dhapur Pendawa Prasaja
Ricikan Luk Lima : kembang kacang, jalen, lambe gajah dua, jalu memet, sogokan dua, sraweyan dan ri pandhan. Bentuknya mirip sekali dengan Pendawa Cinarita, bedanya terletak pada gusen, kruwingan dan kelengkapan greneng.

7. Dhapur Kala Nadah
Ricikan Luk Lima : gandhik polos, sraweyan, ri pandhan, terkadang juga memiliki greneng lengkap, dan hanya satu sogokan di depan, sogokan ini ada yang sempurna, ada juga yang kurang sepurna, hanya dangkal saja.

8. Dhapur Anoman
Ricikan Luk Lima : kembang kacang, lambe gajah dua, jalen, jalu memet, sogokan dua dan keduanya panjang sampai ke ujung bilah, pakai ri pandhan dan terkadang juga memakai greneng lengkap.

9. Dhapur Kebo dengan Kelap Lintah
Ricikan Luk Lima : dhapur ini tergolong jarang dijumpai, ricikan gandhik panjang, pakai kambang kacang yang agak tinggi letaknya, jalen, lambe gajah dan jalu memet, ganjanya kelap lintah. Itulah sebabnya harus disebut nama dhapur secara lengkap, dhapur Kebo Dhengen Kelap Lintah.

10. Dhapur Hurap-Hurap
Ricikan Luk Lima : kembang kacang pohok, jalen, lambe gajah, sogokan dua ukurannya normal pakai gusen dan lis-lisan.

11. Dhapur Pundhak Sategal
Ricikan Luk Lima : kembang kacang, lambe gajah dua, jalen, jalu memet, pundhak sategal kiri kanan serta sraweyan, biasanya pakai thingil, tapi ada yang tidak.

12. Dhapur Sinarasah
Ricikan Luk Lima : kembang kacang, lambe gajah dua, jalen, jalu memet, gusen, lis-lisan, ri pandhan dan ada-adanya terlihat jelas.

13. Dhapur Naga Salira
Ricikan Luk Lima : gandhiknya kepala naga, bagian dada naga menyentuh ganja lalu naik ke atas mengikuti luk, ada yang pakai greneng lengkap, ada yang greneng wurung, ada pula yang hanya pakai thingil.

14. Dhapur Naga Siluman Luk Lima
Penyebutan nama dhapur keris ini memang harus lengkap, naga siluman luk lima karena memang ada naga siluman luk lima, luk tujuh, luk sebilan dll. Bentuknya mirip dengan dhapur Naga Salira, bedanya hanya badan naga itu setelah bagian dadanya , menghilang seolah masuk ke dalam bilah keris, itu saja bedanya.

15. Dhapur Kikik Luk Lima
Seluruh bagian-bagiannya sama betul dengan Kikik yang lurus, hanya bedanya terletak pada jumlah luknya.

16. Dhapur Singa Barong Luk Lima
Ricikan Luk Lima : gandhiknya manggambarkan seekor singa dengan mulut menganga, biasanya diberikan gumpalan emas, dan dalam kondisi duduk. Ada pula yang kinatah emas. Selebihnya sama dengan dhapur Naga Siluman.

Keris Pusaka Dhapur Luk 7

Sejak jaman purbakala hingga saat ini, keris menemukan bentuknya yang bermacam-macam dan penuh dengan makna spiritual yang dalam dibalik pembuatanya. Orang-orang jaman sekarang akan semakin rumit bila mempelajari keris secara satu per satu, karena banyak sekali makna yang terkandung di dalam masing-masing keris.

Dari bentuknya ada dua macam jenis keris, yaitu keris lurus dan keris ber-luk (lekuk). Sebagai senjata fisik, keris lurus berfungsi murni sebagai senjata tusuk dan sabet, menjadi senjata yang diandalkan untuk menusuk dan merobek tubuh lawannya dan seperti kabanyakan senjata tarung lainnya, racun pada keris (warangan keris) akan sangat menyakitkan lawan dan bahkan bisa membunuhnya walaupun hanya tergores sedikit saja.

Tidak demikian dengan keris ber-luk. Keris ber-luk, selain sebagai senjata tusuk dan sabet, bentuk luk-nya juga berguna dalam menahan dan menangkis senjata lawan dan menghasilkan luka yang lebih besar dan lebih parah bila berhasil menusuk lawan. Yang terakhir ini sering tidak disadari oleh kebanyakan orang, karena secara filosofis jawa, hal demikian memang tidak pantas untuk diutarakan. Jadi oleh Empu pembuatnya, bentuk luk keris memang sengaja dibuat dengan tujuan lain yang tersembunyi, bukan hanya sebagai pemanis. Selain itu, bentuk keris juga menjadi pakem untuk menunjukkan makna spiritual kerisnya.  

Untuk keris pusaka luk 7 sendiri memiliki makna yaitu angka tujuh merupakan lambang kesempurnaan ilahi. Keris ber-luk 7 terutama diperuntukan bagi orang-orang yang menganggap hidup keduniawiannya sudah sempurna, sudah cukup, sudah tidak lagi mengejar keduniawian dan untuk lebih menekuni hidup kerohanian. Keris ber-luk 7 dibuat untuk raja dan keluarga raja yang sudah mandito dan untuk tujuan kemapanan kerohanian/kesepuhan, dimaksudkan untuk dimiliki oleh raja atau keluarga raja yang sudah matang dalam usia dan psikologis atau sudah mandito.

1. Dhapur Jaran Guyang
Ricikan Luk Tujuh : gandhiknya polos, pakai blumbangan dan thingil atau terkadang greneng wurung. Bilah keris umumnya pipih dan tipis.

2. Dhapur Sempana Luk Tujuh
Ricikan Luk Tujuh : kembang kacang, lambe gajah dua, jalen dan jalu memet serta greneng. ada pula sempana yang luknya sembilan.

3. Dhapur Sempana Bungkem
Ricikan Luk Tujuh : ricikan sama persis dengan Sempana Luk Tujuh. Bedanya terletak pada  kembang kacangnya yang ujungnya menempel langsung pda gandhik (bungkem). Dhapur keris Sempana Bungkem ini biasanya dimiliki oleh mereka yang sering berdebat, seperti jaksa, pengacara dan orang-orang yang sering rapat dll.

4. Dhapur Murmo Malela
Ricikan Luk Tujuh : kembang kacang, lambe gajah cuma satu, selain itu tanpa ricikan apa-apa lagi.

5. Dhapur Carubuk
Ricikan Luk Tujuh : kembang kacang, lambe gajah dua, sraweyan, greneng lengkap, ada pula yang pakai kruwingan.

6. Dhapur Sempana Manyul atau Sempana Panyul
Ricikan Luk Tujuh : gandhik agak tinggi dan miring, kembang kacang, lambe gajah dua, sraweyan, ri pandhan, terkadang hanya thingil saja.

7. Dhapur Carita Kasapta
Ricikan Luk Tujuh : kembang kacang, lambe gajah dua, jalen, jalu memet, tikel alis, kruwingan, gusen, lis-lisan, greneng. Dhapur keris Carita Kasapta ini tergolong jarang dijumpai.

8. Dhapur Balebang
Ricikan Luk Tujuh : kembang kacang, lambe gajah satu, sogokan dua ukuran normal, sraweyan.

9. Dhapur Naga Keras
Ricikan Luk Tujuh : gandhik kepala naga, biasanya bermahkota, dada naga menyentuh bagian ganja, kemudian badan sampai buntutnya mengikuti luk. Ricikan lainnya biasanya pakai greneng lengkap.

10. Dhapur Naga Siluman Luk Tujuh
Ricikan Luk Tujuh : secara keseluruhan sama dengan Naga Siluman Luk Lima, bedanya hanya menyangkut jumlah luk saja.

Keris Pusaka Dhapur Luk 9

Sejak jaman purbakala hingga saat ini, keris menemukan bentuknya yang bermacam-macam dan penuh dengan makna spiritual yang dalam dibalik pembuatanya. Orang-orang jaman sekarang akan semakin rumit bila mempelajari keris secara satu per satu, karena banyak sekali makna yang terkandung di dalam masing-masing keris.

Dari bentuknya ada dua macam jenis keris, yaitu keris lurus dan keris ber-luk (lekuk). Sebagai senjata fisik, keris lurus berfungsi murni sebagai senjata tusuk dan sabet, menjadi senjata yang diandalkan untuk menusuk dan merobek tubuh lawannya dan seperti kabanyakan senjata tarung lainnya, racun pada keris (warangan keris) akan sangat menyakitkan lawan dan bahkan bisa membunuhnya walaupun hanya tergores sedikit saja.

Tidak demikian dengan keris ber-luk. Keris ber-luk, selain sebagai senjata tusuk dan sabet, bentuk luk-nya juga berguna dalam menahan dan menangkis senjata lawan dan menghasilkan luka yang lebih besar dan lebih parah bila berhasil menusuk lawan. Yang terakhir ini sering tidak disadari oleh kebanyakan orang, karena secara filosofis jawa, hal demikian memang tidak pantas untuk diutarakan. Jadi oleh Empu pembuatnya, bentuk luk keris memang sengaja dibuat dengan tujuan lain yang tersembunyi, bukan hanya sebagai pemanis. Selain itu, bentuk keris juga menjadi pakem untuk menunjukkan makna spiritual kerisnya.  

Untuk keris pusaka luk 9 sendiri memiliki makna yaitu angka sembilan ditujukan untuk orang-orang yang sudah tidak lagi melulu mengejar keduniawian, sudah lebih menekuni kerohanian. Keris-keris ber-luk 9 dibuat untuk tujuan kemapanan kerohanian dan kesepuhan. Dikhususkan untuk dimiliki oleh para pandita atau penembahan dan para sesepuh masyarakat. Selain memberikan tuah keselamatan, kerohanian, keilmuan dan pembawa kesepuhan, jenis keris ini biasanya mengeluarkan hawa aura yang sejuk.

1. Dhapur Jaruman
Ricikan Luk Sembilan : gandhiknya polos, pakai sogokan dua ukurannya normal, dan pakai sraweyan.

2. Dhapur Kidang Mas
Ricikan Luk Sembilan :  gandhik polos, pakai greneng lengkap, selebihnya tidak ada ricikan lain.

3. Dhapur Sempana Luk Sembilan
Ricikan Luk Sembilan : kembang kacang, lambe gajah cuma satu, pakai greneng lengkap. Dhapur keris ini penyebutannya juga harus lengkap "Sempana Luk Sembilan" karena masih ada Sempana Luk Tujuh.

4. Dhapur Sempana Kalentang atau Sempana Klentang
Ricikan Luk Sembilan : kembang kacang, tikel alis, ri pandhan, tapi terkadang juga hanya tingil saja.

5. Dhapur Carang Soka
Ricikan Luk Sembilan : kembang kacang, lambe gajah dua, jalen, jalu memet, sraweyan, ri pandhan.

6. Dhapur Kidang Soka
Ricikan Luk Sembilan : kembang kacang, lambe gajah cuma satu, sraweyan dan ri pandhan, ada pula yang hanya greneng wurung.

7. Dhapur Jarudeh
Ricikan Luk Sembilan : kembang kacang, lambe gajah cuma satu, sogokan dua ukuran normal.

8. Dhapur Panji Sekar
Ricikan Luk Sembilan : kembang kacang pogok, sogokan dua ukuran normal, sraweyan dann ri pandhan.

9. Dhapur Carita Kanawa
Ricikan Luk Sembilan : kembang kacang, lambe gajah dua, jalen, jalu memet, sogokan dua ukuran normal, sraweyan, lis-lisan, kruwingan dan gusen.

10. Dhapur Buto Ijo
Ricikan Luk Sembilan : kembang kacang, lambe gajah satu, sogokan dua ukuran normal dan greneng lengkap.

11. Dhapur Sabuk Tampar
Ricikan Luk Sembilan : gandhik polos, blumbangan (umumnya dalam), sogokan dua ukuran normal, sraweyan dan thingil.
Ada Buku yang menyebutkan keris dhapur Sabuk Tampar ricikannya adalah kembang kacang, lambe gajah satu, sogokan dua, sraweyan dan ri pandhan, yang mana yang akan dianut, balik lagi kepada pembaca.

12. Dhapur Panimbal
Ricikan Luk 11 : kembang kacang, lambe gajah dua, jalen dan jalu memet, sogokan dua ukuran normal, sraweyan dan greneng lengkap.

13. Dhapur Paniwen
Ricikan Luk Sembilan : kembang kacang pogok, sogokan dua normal dan sraweyan
Ada buku lain yang menyebutkan keris dhapur Paniwen, ricikannya adalah kembang kacang (tidak harus pogok), lambe gajah dua, jalen dan jalu memet, tanpa sogokan, greneng lengkap, yang mana yang akan dianut, balik lagi kepada pembaca.  

Keris Pusaka Dhapur Luk 11

Sejak jaman purbakala hingga saat ini, keris menemukan bentuknya yang bermacam-macam dan penuh dengan makna spiritual yang dalam dibalik pembuatanya. Orang-orang jaman sekarang akan semakin rumit bila mempelajari keris secara satu per satu, karena banyak sekali makna yang terkandung di dalam masing-masing keris.

Dari bentuknya ada dua macam jenis keris, yaitu keris lurus dan keris ber-luk (lekuk). Sebagai senjata fisik, keris lurus berfungsi murni sebagai senjata tusuk dan sabet, menjadi senjata yang diandalkan untuk menusuk dan merobek tubuh lawannya dan seperti kabanyakan senjata tarung lainnya, racun pada keris (warangan keris) akan sangat menyakitkan lawan dan bahkan bisa membunuhnya walaupun hanya tergores sedikit saja.

Tidak demikian dengan keris ber-luk. Keris ber-luk, selain sebagai senjata tusuk dan sabet, bentuk luk-nya juga berguna dalam menahan dan menangkis senjata lawan dan menghasilkan luka yang lebih besar dan lebih parah bila berhasil menusuk lawan. Yang terakhir ini sering tidak disadari oleh kebanyakan orang, karena secara filosofis jawa, hal demikian memang tidak pantas untuk diutarakan. Jadi oleh Empu pembuatnya, bentuk luk keris memang sengaja dibuat dengan tujuan lain yang tersembunyi, bukan hanya sebagai pemanis. Selain itu, bentuk keris juga menjadi pakem untuk menunjukkan makna spiritual kerisnya.  

Keris ber-luk 11, mungkin awalnya dibuat untuk mendobrak kemapanan pakem pembuatan keris pada jamannya, mengingat angka 11 tidak mempunyai makna tertentu dalam budaya jawa. Keris ber-luk 11 biasanya memiliki pembawaan yang teduh, tidak angker, tetapi dibalik keteduhan itu terkandung suatu energi gaib yang tajam yang siap menembus pertahanan perisai gaib lawan.

Contoh keris ber-luk 11 adalah Sabuk Inten dan Sengkelat luk 11 yang terkenal sakti dan banyak dibuat tiruannya. Kedua keris tersebut memiliki pembawaan yang teduh, tidak angker, tetapi dibalik keteduhannya itu terkandung suatu energi gaib yang tajam dan siap menembus pertahanan perisai gaib lawan, apalagi bila ujung kerisnya diarahkan kepada seseorang.

Awalnya Keris Sengkelat Luk 11 memang membingungkan banyak orang karena tidak sesuai dengan kebiasaan/pakem keris yang umum. Selain karena jumlah luk-nya yang 11, keris itu juga berwarna hitam gelap, tidak mengkilap dan tidak berpamor (Keleng), namun karena kesaktiannya yang sangat tinggi, keris ini kemudian banyak dibuat turunannya/tiruannya yaitu yang disebut keris-keris berdhapur sengkelat.

1. Dhapur Sabuk Tali
Ricikan Luk 11 : gandhik polos, sogokan hanya satu di depan saja, sraweyan. Pada buku lainnya menyebutkan, ricikan keris dhapur Sabuk Tali adalah gandhik polos, sogokan dua, blumbungan, thingil (terkadang tidak ada).

2. Dhapur Jaka Wuru
Ricikan Luk 11 :  gandhik polos, blumbungan serta ri pandhan.

3. Dhapur Carita Luk 11
Ricikan Luk 11 : kembang kacang, lambe gajah dua, dan greneng lengkap.

4. Dhapur Carita Prasaja
Ricikan Luk 11 : kembang kacang, lambe gajah dua, tanpa ricikan lainnya.

5. Dhapur Carita Gandhu
Ricikan Luk 11 : kembang kacang, jenggot, lambe gajah, jalen, dan jalu memet, sraweyan dan ri pandhan.

6. Dhapur Carita Bungkem
Ricikan Luk 11 : kembang kacang bungkem, greneng lengkap, selebihnya tidak ada ricikan.

7. Dhapur Carita Genengan
Ricikan Luk 11 : kembang kacang, jenggot, lambe gajah dua, jalen, jalu memet, sogokan dua ukuran normal dan ri pandhan.

8. Dhapur Carita Keprabon
Ricikan Luk 11 : kembang kacang, lambe gajah dua, jalen, jalu memet, sogokan dua ukuran normal, sraweyan, kruwingan, lis-lisan, gusen dan greneng lengkap.

9. Dhapur Carita Daleman
Ricikan Luk 11 : kembang kacang lambe gajah satu, jenggot, tikel alis, sogokan dua ukuran normal, sraweyan, greneng lengkapp, kruwingan, lis-lisan dan gusen.

10. Dhapur Caluring/ Waluring Luk 11
Ricikan Lk 11 : kembang kacang, lambe gajah cuma satu (ada yang bilang harus dua), sogokan dua ukuran normal, sraweyan dan greneng lengkap. Pada keris-keris tangguh palembang, ricikannya lebih lengkap lagi yaitu : kembang kacang, lembe gajah dua, jalen, jenggot, blumbungan, sogokan dua ukuran normal, kruwingan, sraweyan, lis-lisan, gusen dan greneng lengkap.

11. Dhapur Nagasasra Luk 11
Penyebutannya harus lengkap, Nagasasra Luk 11, karena ada juga yang luk 13. Ricikannya : gandhiknya kepala naga, biasanya bermahkota dan kinatah emas. Dadanya menyentuh ganja, sedangkan badannya serta buntutnya ke atas mengikuti belokan luk-nya. Umumnya memakai greneng lengkap. Pada masa damai, moncong naga ini biasanya dijelali dengan emas, tapi pada masa perang atau darurat, emasnya dilepas. 

Keris Pusaka Dhapur Luk 13

Sejak jaman purbakala hingga saat ini, keris menemukan bentuknya yang bermacam-macam dan penuh dengan makna spiritual yang dalam dibalik pembuatanya. Orang-orang jaman sekarang akan semakin rumit bila mempelajari keris secara satu per satu, karena banyak sekali makna yang terkandung di dalam masing-masing keris.

Dari bentuknya ada dua macam jenis keris, yaitu keris lurus dan keris ber-luk (lekuk). Sebagai senjata fisik, keris lurus berfungsi murni sebagai senjata tusuk dan sabet, menjadi senjata yang diandalkan untuk menusuk dan merobek tubuh lawannya dan seperti kabanyakan senjata tarung lainnya, racun pada keris (warangan keris) akan sangat menyakitkan lawan dan bahkan bisa membunuhnya walaupun hanya tergores sedikit saja.

Tidak demikian dengan keris ber-luk. Keris ber-luk, selain sebagai senjata tusuk dan sabet, bentuk luk-nya juga berguna dalam menahan dan menangkis senjata lawan dan menghasilkan luka yang lebih besar dan lebih parah bila berhasil menusuk lawan. Yang terakhir ini sering tidak disadari oleh kebanyakan orang, karena secara filosofis jawa, hal demikian memang tidak pantas untuk diutarakan. Jadi oleh Empu pembuatnya, bentuk luk keris memang sengaja dibuat dengan tujuan lain yang tersembunyi, bukan hanya sebagai pemanis. Selain itu, bentuk keris juga menjadi pakem untuk menunjukkan makna spiritual kerisnya.  

Keris ber-luk 13 memiliki makna yaitu angka 13 dalam budaya jawa mempunyai makna yang jelek, yaitu kesialan, musibah atau malapetaka. Pembuatan keris ber-luk 13 ini dimaksudkan dengan kesaktian dan wibawa kekuasaan keris ini menjadi penangkal kesialan atau tolak bala. Keris ber-luk 13 biasanya untuk tujuan kesaktian dan wibawa kekuasaan. Contoh keris ber-luk 13 yang terkenal adalah keris Naga Sasra yang bersifat yang bersifat penguasa, pengayom, dan pelindung. Auara wibawa keris ini sangat kuat. Aura wibawanya menunjang kewibawaan pemiliknya supaya disujuti banyak orang dan wataknya sebagai pengayom dan pelindung akan selalu melindungi orang-orang yang berlindung kepadanya.

Keris Naga Sastra dan Keris Sabuk Inten adalah sepasang keris yang menjadi lambang kebesaran kerajaan Majapahit dan ketika kerajaan berakhir, pemerintahan berpindah ke kerajaan Demak, sepasang keris ini kemudian diboyong ke Demak dan dijadikan lambang kebesaran kerajaan Demak. Sayangnya di Demak, wahyu kerisnya tidak bekerja.

Kedua keris ini memiliki kesaktian yang setingkat dan sifat-sifat karekter kedua keris ini saling melengkapi. Pada masanya banyak orang, terutama para penguasa daerah, seperti kadipaten dan kabupaten yang menginginkan memiliki sepasang keris tersebut, sehingga kemudian sepasang keris tersebut banyak dibuat keris-keris tiruannya, yaitu keris-keris berdhapur Naga Sasra dan berdhapur Sabuk Inten.

Beberapa di antara keris-keris tiruan sepasang keris tersebut, bila hanya dibuat sebuah, tidak sepasang, banyak yang dibuat berdhapur Naga Sastra tetapi ber-luk 11 atau berdhapur Sabuk Inten tetapi ber-luk 13. Sengaja dibuat demikian oleh empunya dengan tujuan untuk menggambarkan bahwa keris yang hanya sebuat ini, karakter gaibnya sama dengan perpaduan karakter sepasang keris Naga Sastra dan Sabuk Inten. 

1. Dhapur Waluring Luk 13
Ricikan Luk 13 : gandhik polos, sraweyan, thingil atau ri pandhan. Dhapur Waluring ini ada pula yang luknya hanya sebelas.

2. Dhapur Sepokal
Ricikan Luk 13 : gandhik polos, wadidang polos, cuma pakai sraweyan

3. Dhapur Johan Mangan Kala
Ricikan Luk 13 : gandhik polos, sogokan dua ukuran normal, sraweyan, dan greneng lengkap

4. Dhapur Kantar
Ricikan Luk 13 : kembang kacang, lambe gajah dua (ada yang hanya satu), blumbangan, sogokan cuma satu di depan dan sraweyan.

5. Dhapur Parungsari
Ricikan Luk 13 : kembang kacang, jenggot, lambe gajah dua, jalen memet, tikel alis, sogokan dua ukurannya normal, kruwingan dan greneng lengkap.

6. Dhapur Sengkelat
Ricikan Luk 13 : kembang kacang, lambe gajah dua, blumbangan, sogokan dua ukuran normal, terkadang pakai jenggot, sraweyan , greneng lengkap. Bedanya yang utama dengan dhapur Parung Sari, terletak pada Tikel Alis,

7. Dhapur Bima Kurda
Ricikan Luk 13 : kembang kacang, lambe gajah satu, sraweyan, jenggot dan greneng lengkap, tanpa sogokan, tanpa tikel alis.

8. Dhapur Lung Gandhu
Ricikan Luk 13 : kembang kacang, lambe gajah satu, sraweyan, thingil. Ada pula yang hanya wadidang polos.

9. Dhapur Naga Sasra
Ricikan Luk 13 : gandhik kepala naga, biasanya bermahkota, bagian dada dari naga menyentuh ganja, sedangkan badan naga sampai buntutnya terus mengikuti badan bilah sampai ke luk 13. Ricikan lainnya adalah greneng ada yang lengkap dan ada pula yang tidak. Sebagian orang berpendapat kalau keris dhapur Naga Sasra harus kinatah emas, tapi sebagian lagi tidak kinatah emas.

10. Dhapur Naga Siluman Luk 13
Ricikan Luk 13 : gandhik kepala naga, biasanya pakai mahkota. Bagian dada dari naga menyentuh ganja, kemudian naik ke atas, menghilang ke dalam bilah.

11. Dhapur Singa Barong Luk 13
Ricikan Luk 13 : gandhik berupa Singa Barong dalam posisi duduk dengan moncong ddisumpal dengan emas. Ricikan lainnya, greneng lengkap. Penyebutan nama dhapur ini harus lengkap yaitu Singa Barong Luk 13 karena ada Singo Barong luk lainnya.

Dari 200 Nama Dapur Keris Pusaka diatas, ada 6 Keris Pusaka Paling Melegenda dan merupakan Keris Pusaka Paling Diburu, inilah 6 Keris Pusaka Paling Melegenda :

Keris Pusaka Mpu Gandring.
Keris empu Gandring adalah Benda Pusaka yang sangat terkenal dalam riwayat berdirinya kerajaan singasari di Malang, Keris ganas yang sudah terkenal memakan korban para pendiri kerajaan, pembuat, bahkan pemakainya yaitu Ken Arok. Singkat Cerita, Keris yang Melegenda ini di buat oleh empu yang sangat sakti bernama Empu Gnadring, yang kemudian dimintakan membuat sebuh keris sangat sakti oleh ken Arok.
Setelah selesai menjadi keris dengan bentuk dan wujud yang sempurna bahkan memiliki kemampuan supranatural yang konon dikatakan melebihi keris-keris pusaka masa itu. Mpu Gandring menyelesaikan pekerjaannya membuat sarung keris tersebut. Namun belum lagi sarung tersebut selesai dibuat, Ken Arok datang mengambil keris tersebut yang menurutnya sudah satu hari dan harus diambil. Kemudian Ken Arok menguji Keris tersebut dan terakhir Keris tersebut ditusukkannya pada Mpu Gandring yang konon menurutnya tidak menepati janji (karena sarung keris itu belum selesai dibuat) selebihnya bahkan dikatakan untuk menguji kemampuan keris tersebut melawan kekuatan supranatural si pembuat keris (yang justru disimpan dalam keris itu untuk menambah kemampuannya). Dalam keadaan sekarat, Mpu Gandring mengeluarkan sumpah kutukan bahwa Keris tersebut akan meminta korban nyawa tujuh turunan dari Ken Arok. Sampai sekarang keris mpu gandring ini belum ditemukan lagi oleh siapapun..!!!

Keris Pusaka Naga Sasra Sabuk Inten.
Keris Pusaka Nagasasra dan Sabuk Inten adalah dua benda pusaka berbeda peninggalan Raja Majapahit. Nagasasra adalah nama salah satu dapur keris luk tiga belas dan ada pula yang luk-nya berjumlah sembilan dan sebelas, sehingga penyebutan nama dapur ini harus disertai dengan menyatakan jumlah luk-nya agar tidak salah.
Pada keris dapur Nagasasra yang bagus, sebagian banyak bilahnya diberi kinatah emas, dan pembuatan kinatah emas semacam ini telah dirancang oleh sang empu sejak awal pembuatan. Pada tahap penyelesaian akhir, sang empu sudah membuat bentuk kinatah sesuai rancangan. Bagian-bagian yang kelak akan dipasang emas diberi alur khusus Berupa pamor, untuk “tempat pemasangan kedudukan emas” dan setelah penyelesaian wilah selesai, maka dilanjutkan dengan penempelan emas oleh pandai emas dari dalam kerajaan.
Salah satu pembuat keris dengan dapur Nagasasra terbaik, adalah karya empu Ki Nom, merupakan seorang empu yang terkenal, dan hidup pada akhir zaman kerajaan Majapahit…!!!

Keris Pusaka Kala Munyeng (Milik Sunan Giri).
Dalam Riwayat Prabu Brawijaya murka. Pengaruh Sunan Giri salah satu dari sembilan Wali Songo, dianggap sudah mengancam eksistensi Kerajaan Majapahit. Patih Gajahmada dan pasukannya lalu dikirim ke Giri untuk memberikan serangan, Penduduk Giri pun panik dan menghambur ke Kedaton Giri. Sunan Giri yang saat itu sedang menulis begitu terkejut dan pena (kalam) yang tengah digunakannya ia lontarkan ke arah pasukan Majapahit. Atas kehendak Sang Pencipta pena yang terlontar itu menjelma menjadi keris ampuh dan keris inilah yang memporakporandakan pasukan Majapahit.
Sunan Giri yang nama kecilnya adalah Raden Paku alias Muhammad Ainul Yakin tidak hanya dikenal sebagai penyebar agama Islam yang gigih. Tetapi juga pembaharu pada masanya. Pesantrennya, yang dibangun di perbukitan desa Sidomukti di selalan Gresik, tak hanya dipergunakan sebagai tempat pendidikan agama dalam arti sempit, tetapi juga menjadi pusat pengembangan masyarakat. Gin Kedaton, pesantrennya di Gresik, bahkan tumbuh menjadi pusat politik yang penting di Jawa kala itu. Ketika Raden Patah (Demak Bintaro) melepaskan diri dari kekuasaan Majapahit, Sunan Giri malah bertindak sebagai penasihat dan panglima militer Kesultanan Demak. Hal tersebut tercatat dalam Babad Demak. Pada perkembangan, nya kemudian, Demak tak lepas dan pengaruh Sunan Giri. Dan Sunan Giri diakui sebagai mufti, pemimpin tertinggi keagamaan setanah Jawa.
Meluasnya pengaruh Sunan Giri di Gresik membuat Prabu Brawijaya, raja Majapahit kala itu murka. la memerintahkan patihnya, Gadjah Mada, ke Gin Penduduk Giri ketakutan dan berlari ke kedaton Sunan, Babad Tanah jawa menuturkan, ketika itu Sunan Giri sedang menulis. Karena terkejut mendengar musuh berdatangan merusak Giri, pena (kalam) yang dipegangnya Beliau lontarkan. Sunan Giri kemudian berdoa pada Sang Pencipta. Ternyata kalam yang terlempar itu berubah meniadi keris berputar-putar, Keris dari kalam itu mengamuk dan banyak tentara Majapahit yang menyerbu Giri tewas, Sisanya kabur,berlarian kembali ke Majapahit. Dan keris dari kalam itupun dikisahkan kembali sendiri ke kedaton Giri, Tergeletak di hadapan Sunan dengan berlumuran darah.Sunan lalu berdoa pada Yang Maha Kuasa, dan mengatakan pada rakyat Giri bahwa kerisnya yang ampuh itu dinamai Kalam Munyeng.
Apakah keris Kalam Munyeng (pena yang berputar-putar) itu modelnya seperti keris yang pada masa kini populer dengan nama Kala Munyeng (raksasa yang berputar-putar), wallahu alam!!! Namun keris Kala munyeng juga termasuk keris yang amat tersohor Namanya di nusantara ini.

Keris Pusaka Kyai Condong Campur
Condong Campur adalah salah satu keris pusaka milik Kerajaan Majapahit yang banyak disebut dalam legenda dan folklor. Keris ini dikenal dengan nama Kanjeng Kyai Condong Campur. Keris ini merupakan salah satu dapur keris lurus. Panjang bilahnya sedang dengan kembang kacang, satu lambe gajah, satu sogokan di depan dan ukuran panjangnya sampai ujung bilah, sogokan belakang tidak ada. Selain itu, keris ini juga menggunakan gusen dan lis-lis-an. Condong Campur merupakan suatu perlambang keinginan untuk menyatukan perbedaan. Condong berarti miring yang mengarah ke suatu titik, yang berarti keberpihakan atau keinginan. Sedangkan campur berarti menjadi satu atau perpaduan. Dengan demikian, Condong Campur adalah keinginan untuk menyatukan suatu keadaan tertentu. Konon keris pusaka ini dibuat beramai-ramai oleh seratus orang mpu. Bahan kerisnya diambil dari berbagai tempat. Dan akhirnya keris ini menjadi keris pusaka yang sangat ampuh tetapi memiliki watak yang jahat.
Dalam dunia keris muncul mitos dan legenda yang mengatakan adanya pertengkaran antara beberapa keris. Keris Sabuk Inten yang merasa terancam dengan adanya keris Condong Campur akhirnya memerangi Condong Campur. Dalam pertikaian tersebut, Sabuk Inten kalah. Sedangkan keris Sengkelat yang juga merasa sangat tertekan oleh kondisi ini akhirnya memerangi Condong Campur hingga akhirnya Condong Campur kalah dan melesat ke angkasa menjadi Lintang Kemukus (komet atau bintang berekor), dan mengancam akan kembali ke bumi setiap 500 tahun untuk membuat huru hara, yang dalam bahasa Jawa disebut ontran-ontran.

Keris Pusaka Setan Kober.
Keris setan kober ini dalam sejarah dibuat oleh mpu supo mandagri, beliau adalah keturunan seorang empu dari tuban. Dalam riwayat, Mpu supo memeluk islam dan berguru kepada sunan Ampel, sambil tetap membuat keris, Supo Mandagri adalah mpu sakti yang menjadikan karya nya begitu sangat terkenal antara lain Keris Kyai Sengkelat,dan Keris Kyai Nogo sosro dan setan kober ini sendiri, keris ini dulu bernama “Bronggot Setan Kober” di buat pada awal kerajaan islam demak Bintaro,kemudian keris ini di serahkan kepada Syekh Jafar Soddiq atau Sunan Kudus dalam perjalananya kemudian di berikan lagi kepada Arya penangsang.
Keris pusaka setan kober ini sangat ampuh sekali, tapi membawa hawa perbawa panas, sehingga sering membuat si pemakainya mudah marah, begitu juga dengan arya penangsang yang mudah emosi akibat pembawaan keris ini. keris inilah yang di gunakan arya penangsang untuk bertanding melawan sutawijaya yang memiliki tombak kyai pleret. Sampai detik ini, keris ini juga tidak di ketahui asli keberadaan nya, sama halnya dengan pusaka lain seperti mpu gandring, demikian juga pamor dan dapur asli ciri setan kober tidak diketahui asli dan model nya, alasan ini mungkin menjadi kuat karena keris ini memakan banyak sekali korban petinggi penting, jadi para empu mungkin tidak membuat mirip asli nya karena di yakini membawa sial atau bala sebab telah di anggap haus darah.

Keris Kyai Sengkelat (Brawijaya Ke V).



Keris Sengkelat adalah keris pusaka luk tiga belas yang diciptakan pada jaman Majapahit (1466 – 1478), yaitu pada masa pemerintahan Prabu Kertabhumi (Brawijaya V) karya Mpu Supa Mandagri. Mpu Supa adalah salah satu santri Sunan Ampel. Konon bahan untuk membuat keris Sengkelat adalah cis, sebuah besi runcing untuk menggiring onta. Konon, besi itu didapat Sunan Ampel ketika sedang bermunajat. Ketika ditanya besi itu berasal darimana, dijawab lah bahwa besi itu milik Muhammad Saw. Maka diberikan lah besi itu kepada Mpu Supa untuk dibuat menjadi sebilah pedang. Namun sang mpu merasa sayang jika besi tosan aji ini dijadikan pedang, maka dibuatlah menjadi sebilah keris luk tiga belas dan diberi nama keris Sengkelat. Setelah selesai, diserahkannya kepada Sunan Ampel. Sang Sunan menjadi kecewa karena tidak sesuai dengan apa yang dikehendakinya. Maka oleh Sunan Ampel disarankan agar keris Sengkelat diserahkan kepada Prabu Brawijaya V.
Ketika Prabu Brawijaya V menerima keris tersebut, sang Prabu menjadi sangat kagum akan kehebatan keris Kyai Sengkelat. Dan akhirnya keris tersebut menjadi salah satu piyandel (maskot) kerajaan dan diberi gelar Kangjeng Kyai Ageng Puworo, mempunyai tempat khusus dalam gudang pusaka keraton.
Pusaka baru itu menjadi sangat terkenal sehingga menarik perhatian Adipati Blambangan. Adipati ini memerintahkan orang kepercayaannya untuk mencuri pusaka tersebut demi kejayaan Blambangan, dan berhasil. Mpu Supa yang telah mengabdi pada kerajaan Majapahit diberi tugas untuk mencari dan membawa kembali pusaka tersebut ke Majapahit. karena taktik yang jitu dari mpu supa akhirnya keris itu ia dapatkan kembali dan tanpa menyebabkan peperangan, Malah Ki Nambang akhirnya dianugerahi seorang putri kadipaten yang bernama Dewi Lara Upas, adik dari Adipati Blambangan itu sendiri. Sang Mpu yang berhasil melaksanakan tugas selalu mencari cara agar dapat kembali ke Majapahit. Ketika kesempatan itu tiba maka beliau pun segera kembali ke Majapahit dan meninggalkan istrinya yang sedang hamil. Sebelum pergi, beliau meninggalkan pesan kepada sang istri bahwa kelak jika anak mereka lahir laki-laki agar diberi nama Joko Suro, serta meninggalkan besi bahan untuk membuat keris.

Setelah anda memahami dapur keris pusaka dunia tahap berikutnya wajib memahami Nama nama Pamor Keris Pusaka , nama untuk pamor keris berlaku juga untuk tosan aji lainnya seperti Tombak, Wedung, Pedang dsb. Khusus pamor yang pemilih yang biasanya diperuntukan untuk kedudukan tertentu atau karakter tertentu, sebaiknya di “tayuh” dahulu apakah cocok atau tidak sedangkan yang tidak pemilih bisa dimiliki oleh siapa saja.

Wos Wutah.
Pamor yang paling banyak dijumpai, bentuknya tidak teratur tetapi tetap indah dan umumnya tersebar dipermukaan bilah. Ada yang berpendapat pamor ini pamor gagal, saat si empu ingin membuat sesuatu pamor tetapi gagal maka jadilah Wos Wutah. Tetapi ini dibantah dan beberapa empu dan pamor ini memang sengaja dibuat serta termasuk pamor tiban. Pamor ini berkhasiat baik untuk ketentraman dan keselamatan pemiliknya, bisa digunakan untuk mencari rejeki, cukup wibawa dan disayang orang sekelilingnya, pamor ini tidak pemilih.

Ngulit Semangka.
Sepintas seperti kulit semangka, tuahnya seperti Sumsum Buron, memudahkan mencari jalan rejeki dan mudah bergaul pada siapa saja dan dari golongan manapun. Pamor ini tidak memilih dan cocok bagi siapa saja.

Tambal.
Mirip goresan kuas besar pada sebuah bidang lukisan. Tuahnya biasanya menambah kewibawaan dan menunjang karier seseorang. Menurut istilah Jawa bisa menjunjung derajat. Pamor ini termasuk pemilih dan tidak setiap orang cocok.

Pulo Tirto.
Seperti Wos Wutah hanya gumpalan gambarnya terpisah agak berjauhan, seperti bentuk pulau pada peta. Tuahnya sama dengan pamor Wos Wutah.

Sumsum Buron.
Pamor ini juga mirip Wos Wutah, gumpalan juga terpisah agak berjauhan seperti Pulo Tirto hanya agak lebih besar dan lebih menyatu. Tuahnya baik, tahan godaan dan murah rejeki serta tidak pemilih.

Melati Rinonce.
Bentuknya mirip pamor Rante tetapi umumnya bulatannya lebih kecil dan tidak berlubang. Bulatan itu berupa pusaran pusaran mirip dengan pamor Udan Mas tetapi agak lebih besar sedikit. Tuahnya mencari jalan rejeki dan menumpuk kekayaan. Untuk pergaulan juga baik, pamor ini tidak memilih dan bisa digunakan siapa saja.

Rante.
Tuah utama pamor ini adalah untuk menampung dan mengembangkan rejeki yang didapat. Bisa mengurangi sifat boros, tetapi bukan pelit. Cocok untuk semua orang baik digunakan berdagang atau berusaha. Bentuknya agak mirip pamor Melati Rinonce, hanya bedanya pada bulatannya ada semacam gambar “lubang”.

Adeg.
Pamor Adeg banyak dijumpai, tergolong pamor pemilih tetapi lebih banyak yang cocok daripada tidak. Tuahnya terutama sebagai penolak, ada yang menolak gunaguna, ada yang menolak wabah, angin ribut, banjir dan lainnya. Ada yang hanya menolak satu sifat ada yang beberapa sifat penolakan.

Mrambut.
Sepintas seperti Adeg, bahkan ada yang menyamaratakan dengan membuat istilah baru Adeg-Mrambut. Padahal sebenarnya lain. Pamor Mrambut alurnya terputus-putus. Tuahnya hampir sama dengan pamor Adeg. Tergolong pemilih, tidak semua orang cocok.

Sekar Lampes.
Tuah dari pamor ini mirip dengan pamor Tumpal Keli. Hanya pada pamor Sekar Lampes umumnya juga mengandung tuah yang menambah kewibawaan pemakainya dan tergolong pamor yang tidak pemilih.

Ilining Warih.
Rejeki yang lumintu, walaupun sedikit demi sedikit tetapi selalu ada saja. Itulah yang utama tuah dari Ilining Warih. Selain soal rejaki, pamor ini juga baik untuk pergaulan. Tidak memilih dan umumnya cocok untuk siapapun.

Blarak Ngirid.
Disebut juga kadang dengan “Blarak Sinered”, tapi ada juga yang menyebut Blarak Ngirid lain dengan Blarak Sinered. Tuah utamanya menambah kewibawaan dan juga baik untuk pergaulan karena disayang orang sekelilingnya, baik pihak atasan atau bawahan. Pamor ini tergolong pemilih.

Ron Pakis.
Mirip sekali dengan Blarak Ngirid, hanya pada bagian tepinya seolah ada sobekan. Tergolong pemilih dan tuahnya untuk kewibawaan serta keberanian (tata bhs jawa). Baik dimiliki oleh orang yang berkecimpung dibidang Militer dan Keprajuritan.

Koro Welang.
Juga hampir sama dengan Blarak Ngirid atau Ron Pakis, tetapi “daun” nya lebih besar dan lebih menyatu. Tuahnya juga hampir sama dengan Blarak Ngirid, tetapi fungsi pergaulannya lebih besar dari fungsi wibawanya. Beberapa keris dengan pamor ini (tidak semua) baik juga untuk mencari jalan rejeki. Tergolong pamor pemilih.

Ron Genduru.
Ada yang menyingkat menjadi RONGENDURU atau menyebut RON KENDURU. Agak mirip Ganggeng Kanyut tetapi relatif susunannya lebih teratur dan rapi. Tuahnya berkisar pada kewibawaan dan rejeki. Baik digunakan untuk pengusaha yang punya banyak anak buah. Tergolong pamor pemilh.

Mayang Mekar.
Bentuknya indah sekali seperti daun Seledri, tuahnya memperlancar pergaulan dan dikasihani orang sekeliling. Beberapa diantaranya malah bertuah memikat lawan jenis. Tergolong pamor pemilih.

Wiji Timun.
Menyerupai biji ketimun. Hampir sama dengan pamor Uler Lulut tetapi lebih kecil dan lonjong. Tuahnya juga untuk mencari jalan rejeki. Ada sedikit unsur kewibawaan. Baik untuk pedagang maupun untuk pengusaha. Pamor ini agak pemilih.

Kenongo Ginubah.
Tuahnya menarik perhatian orang. Pergaulannya baik dan diterima digolongan manapun. Tetapi pamor ini termasuk pemilih.

Walang Sinuduk.
Bentuknya mirip dengan satai belalang. Posisi belalang-belalangnya bisa miring kekiri, bisa kekanan. Tuah utamanya mempengaruhi orang lain. Wibawanya besar sehingga baik dimiliki oleh pemuka masyarakat, guru, pemimpin politik. Tergolong pamor pemilih.

Tumpal Keli.
Tuahnya baik untuk pergaulan. Bisa menunjang karier karena pemiliknya akan disayang atasan. Termasuk pamor tidak pemilih.

Bendosegodo.
Bentuknya menyerupai bulatan menggumpal dari bawah keatas. Tuahnya untuk jalan rejeki dan pergaulan serta ketentraman rumah tangga. Tergolong tidak pemilih.

Melati Sinebar.
Mirip pamor Tetesing Warih, merupakan bulatan bersusun rangkap tiga atau lebih tetapi bulatannya tidak sempurna betul dengan garis tengah sekitar 1 cm. Tempatnya ditengah bilah dan jarak satu bulatan dengan lainnya sekitar 1 cm atau lebih. Pamor ini tergolong tidak pemilih dan tuahnya untuk mencari rejeki.

Manikem.
Tergolong pamor langka dan hanya dijumpai dikeris muda terutama tangguh Madura. Bentuknya mirip Melati Rinonce atau Melati Sato-or tetapi garis penghubung antar bulatan-bulatannya lebih gemuk, lebih lebar. Sedangkan bulatannya juga lebih lebar dibandingkan Melati Rinonce, bahkan ada yang hampir menyentuh tepi bilah. Tergolong tidak pemilih dan bertuah memudahkan mencari rejeki.

Sekar Kopi.
Ditengah bilah ada pamor yang menyerupai garis tebal dari sor-soran sampai dekat ujung bilah. Dikiri kanan garis tebal ini terdapat lingkaran-lingkaran bergerombol atau berkelompok. Satu kelompok terdiri dari dua atau tiga lingkaran menempel pada garis tebal seolah-olah biji kopi menempel pada tangkai bijinya. Tuahnya memperlancar rejeki tergolong tidak pemilih tetapi termasuk pamor langka.

Bonang Rinenteng.
Ada yang menyebutnya Bonang Sarenteng, agak mirip dengan pamor Sekar Kopi tetapi bulatannya hanya satu. Boleh dikiri-kanan secara simetris atau selang seling. Baik Bonang Rinenteng ataupun Sekar Kopi, bulatannya seperti pusaran di pamor Udan Mas. Tergolong tidak pemilih dan memudahkan mencari rejeki.

Jung Isi Dunya.
Bentuknya mirip Putri Kinurung. Bedanya bulatanbulatan kecil yang terdapat pada “kurungan” bulatan relatif lebih besar. Ada juga yang bentuknya sepintas mirip pamor Bendo Segodo. Tuahnya untuk “menumpuk” kekayaan dan tidak pemilih.

Wulan-Wulan.
Di Jawa Timur disebut Bulan-Bulan. Mirip Melati Sinebar atau mirip Bendo Segodo. Bedanya pada pamor Wulan-Wulan , bagian tengahnya berlubang jelas. Tuahnya memudahkan mencari jalan rejeki dan mengikat langganan. Sering disimpan ditoko atau warung.

Tunggak Semi.
Pamor ini terletak ditengah Sor-soran, bentuk seperti tampak digambar samping. Berkombinasi dengan pamor Wos Wutah. Tuahnya untuk mendapatkan rejeki walau bagaimanapun kecilnya. Tidak termasuk pamor pemilih.

Bawang Sebungkul.
Bentuknya memang mirip bungkul bawang, berlapislapis. Paling sedikit ada lima lapisan dan terletak di sor-soran. Tuahnya dibidang rejeki , untuk pengembangan modal. Cocok untuk orang yang bekerja di Bank dan pengembangan modal. Tidak pemilih.

Udan Mas.
Pamor ini banyak dicari orang, terutama pedagang dan pengusaha. Bentuknya merupakan pusaran atau gelang-gelang berlapis, paling sedikit ada tiga lapisan. Letaknya ada yang beraturan dan ada yang berserakan. Pamor ini sering pula berkombinasi dengan Wos Wutah atau Tunggak Semi. Manfaatnya untuk mencari rejeki dan tidak pemilih.

Sisik Sewu.
Seperti gambar sisik ikan, tetapi bila diperhatikan seperti pamor Udan Mas menggumpal menjadi satu, namun pamor ini kurang begitu dikenal, mungkin karena memang jarang. Selain untuk rejeki juga untuk meningkatkan wibawa. Cocok bagi pengusaha dengan banyak karyawan.

Putri Kinurung.
Bentuknya menyerupai gambaran danau dengan tiga atau lebih “pulau” ditengahnya. Letaknya ditengah sor-soran. Tuahnya untuk memudahkan mencari rejeki dan mencegah sifat boros. Bisa diterima dikalangan manapun. Tidak pemilih.

Gumbolo Geni.
Sering juga disebut “Gumbolo Agni” atau “Gumbolo Gromo”. Letaknya ditengah sor-soran dan gambarnya seperti “binatang Kala” dengan posisi ekor seperti menyengat. Tuahnya baik, wibawanya besar dan bisa untuk “singkir baya”, baik dimiliki oleh pimpinan sipil ataupun militer. Termasuk pamor pemilih.

Tangkis.
Panamaan dari pamor yang hanya terdapat pada satu sisi saja dan sisi lain tanpa pamor alias kelengan, kadang kalau pamor atau bentuk bilah berlainan kiri-kanan sering juga disebut pamor Tangkis. Namun ini harus diperhatikan juga apakah memang tidak ada pamornya ataukah sudah hilang karena terkikis atau aus. Kalau karena aus maka ini bukan pamor Tangkis. Tuahnya menolak wabah penyakit.

Pengawak Waja.
Ini istilah untuk keris TANPA pamor sama sekali. Pada keris muda, Pengawak Waja memang tidak diselipi bahan pamor, tetapi pada keris tua masih mengandung bahan pamor walau tidak kelihatan karena penempaan dibuat ratusan kali bahkan ribuan kali lipatan sehingga sudah menyatu dan luluh bilahnya. Hanya tampak seperti urat halus atau serat saja. Tuahnya susah dibaca, hanya mereka yang mengetahui ilmu esoteri saja yang bisa membaca.

Triman.
Ada yang menyebut Pamor TARIMO, mirip sekali dengan WOS WUTAH, tetapi agak rapat dan pamor ini tiba tiba berhenti ditengah bilah, kadang hanya ada di sor-soran saja. Pamor ini sesuai untuk yang berusia lanjut, pensiunan dan tidak lagi memikirkan soal duniawi. Baik
juga dipunyai oleh yang bersifat brangasan, suka marah tetapi kurang baik dipunyai oleh mereka yang masih aktif bekerja.

Andha Agung.
Mirip pamor Rojo Abolo Rojo tetapi ukurannya relatif lebih kecil. Terletak ditengah bilah biasanya dikelilingi pamor Wos Wutah dan panjang hanya sepertiga atau setengah bilah. Tuahnya menyangkut kederajatan dan kewibawaan. Tergolong pamor tidak pemilih.

Kul Buntet.
Mirip pamor Batu Lapak, bedanya pusarannya hanya satu dan alurnya melingkar dan secara keseluruhan lebih bulat dibandingkan pamor Batu Lapak. Tuahnya hampir sama dengan Batu Lapak tetapi Kul Buntet punya nilai rejeki. Selain menghidarkan bahaya juga menghalangi usaha penipuan. Umumnya pamor ini baik untuk semua orang.

Kuto Mesir.
Ada yang menyebut “Kutu Mesir” atau “Kutu Masir”. Bentuknya terdiri dari tumpukan gelang gelang tidak begitu bulat tetapi cenderung agak persegi. Letaknya dibagian sor-soran dan tuahnya hampir sama dengan Kul Buntet tetapi fungsi rejeki nya lebih kuat. Biasanya dicari
pedagang, pengusaha dan pejabat tinggi. Pamor ini sering dikombinasi dengan pamor lain seperti Wos Wutah dan Tunggak Semi.

Dan Riris.
Ada yang menyebut Udan Riris, ada yang penuh dari sorsoran sampai ujung bilah, ada yang “mengisi” sebagian bilah saja. Walau bentuknya tidak seindah pamor Nogorangsang namun umumnya tuahnya lebih kuat. Selain kewibawaan dan kepemimpinan ada fungsi untuk menolak guna-guna. Pamor ini pemilih.

Reged Banyu.
Pamor ini ada yang menghias seluruh bilah, ada yang sebagian saja, tidak dari sor-soran keujung bilah. Tuahnya untuk melindungi si pemilik dari musibah mendadak. Bahasa Jawanya “Singkir Baya” atau “Tulak Bilahi”. Pamor ini tidak pemilih.

Rojo Suleman.
Ada yang menyebut pamor Nabi Sulaiman. Banyak pula yang mengatakan ini adalah rajanya pamor. Letaknya ditengah sor-soran. Tuahnya memang merupakan kumpulan dari hal-hal yang baik, positip. Menghindari bahaya dan mencari jalan rejeki, wibawanya kuat, disayang dan disegani orang disekilingnya. Namun pamor ini punya sifat “memilih”.

Batu Lapak.
Bentuknya menyerupai pusaran yang melingkar-lingkar, biasanya lebih dari lima. Letaknya di sor-soran tengah. Tuahnya “Singkir Baya”. Baik untuk anggota Militer ataupun orang biasa. Berkhasiat bagi yang mempelajari kekebalan, bela diri. Pamor tidak memilih.

Sirat.
Kadang disebut “Teja Bungkus” atau “Bima Bungkus”, baik dipegang oleh mereka yang punya posisi pimpinan karena factor wibawa, kepemimpinan dan disayang anak buah.

Tunggul Wulung.
Yang baik kalau pamor Tunggul Wulung ini merupakan pamor tiban. Bentuknya mirip gambar anak yang sangat sederhana, hanya kepala, tangan dan kaki dan menempati daerah blumbangan. Tuahnya menolak berbagai macam penyakit dan tidak memilih tetapi pemiliknya harus berperi-laku baik, tak boleh menyeleweng. Tergolong pamor langka.

Lintang Kemukus.
Disebut juga “Kukus Tunggal”, bentuknya seperti Sodo Saler, hanya dibagian sor-soran pamor ini menggumpal. Gumpalan ini boleh berupa Benang Setukel atau Tunggak Semi atau Wos Wutah atau juga Bawang Sebungkul. Selain dipercaya membawa rejeki juga untuk ketenaran dan menambah wibawa. Tidak pemilih.

Pancuran Mas.
Banyak dicari pedagang dan pengusaha karena dipercaya membawa keberuntungan bagi pemiliknya, lagipula tidak pemilih. Bentuknya mirip Sada Saler tetapi dibagian ganjanya tepat diujung Sada Saler pamornya seperti bercabang dua.

Sada Saler.
Arti harfiahnya Lidi Sebatang, bentuknya sesuai dengan namanya. Berupa garis lurus membujur sepanjang bilah. Tuahnya ada yang untuk menambah kewibawaan, ketenaran (populeritas) atau keteguhan iman dan pamor ini cocok untuk semua orang.

Wengkon.
Ada yang menamakan pamor Tepen. Bentuknya mirip bingkai (wengkon artinya bingkai). Tuahnya untuk perlindungan, ada yang untuk menghindari dari godaan, ada yang memperbesar rasa hemat dan ada yang untuk menghindari dari guna-guna.

Kudhung.
Pamor ini selalu terletak diujung bilah dan tuahnya seperti namanya untuk melindungi pemiliknya dari serangan guna-guna dan perlindungan dalam situasi darurat. Pamor ini sering digunakan untuk “penunggu rumah”.

Satriya Pinayungan.
Ada dua macam pamor Satriya Pinayungan. Yang pertama pamor pada bagian sor-soran, apa saja bentuknya, bisa Wos Wutah, lalu diatas pamor itu (dekat ujung bilah) terdapat pamor Kudhung. Yang kedua, motif pada sor-soran menyerupai Udan Mas tapi bentuknya teratur. Tiga bulatan mendatar diteruskan beberapa bulatan keatas. Tuahnya sama, membi perlindungan bagi pemiliknya dari perbuatan sirik orang lain. Walau keduanya tidak pemilih tetapi pamor yang pertama lebih cocok untuk mereka yang bekerja di pemerintahan sedangkan yang kedua untuk wiraswasta. Untuk yang pertama dianut oleh penggemar keris dari Solo ketimur, sedang kedua oleh penggemar dari Yogya ke barat, mana yang benar tetapi pendapat keduanya diterima oleh sebagian besar penggemar keris.

Badaela.
Pamor ini tuahnya buruk, ada yang menyebut pamor Bebala. Sebaiknya dilarung saja sebab pemiliknya akan kena pindah, dicurigai serta menerima akibat buruk pekerjaan orang lain

Segara Wedhi.
Terjemahan dalam Bahasa Indonesia, Gurun Pasir. Namun sifat tuahnya bukan berarti “kering kerontang” atau “gersang” melainkan justru baik. Menurut banyak orang tuahnya mudah mendapatkan rejeki. Mirip Udan Mas tetapi bulatannya lebih kecil dan lebih banyak serta tersebar diseluruh permukaan bilah. Pamor ini tergolong tidak pemilih.

Untu Walang.
Arti harafiahnya “Gigi Belalang”, tuahnya menambah kewibawaan seseorang. Dituruti kata katanya dan pamor ini tergolong pemilih, hanya orang yang punya kedudukan cukup tinggi bisa cocok. Untuk guru dan pendidik biasanya juga cocok.

Tundung.
Tergolong pamor yang buruk tuahnya. Sipemilik akan sering pindah rumah atau diusir oleh sesuatu sebab. Rumahtangga tidak tentram dan dijauhi rejeki. Sebaiknya dibuang saja.

Endas Baya.
Tuahnya buruk, sipemilik sering dapat musibah karena tingkah lakunya sendiri. Sebaiknya dibuang saja karena siapapun pemakainya akan selalu sial.

Dhadhung Muntir.
Mirip Sada Saler tetapi “garis” ditengah bilah mempunyai motif seperti pilinan tambang atau dhadhung. Tuahnya sama dengan Sada Saler, menyangkut kewibawaan, keteguhan hati. Pamor ini banyak terdapat pada keris buatan Madura dan tergolong pamor pemilih.

Rahtama.
Terletak dibagian sor-soran merupakan pamor tiban diantara pamor dominan seperti Wos Wutah dan Ngulit Semangka. Baik sekali jika diberikan pada suami-istri yang baru menikah dengan harapan agar memperoleh anak yang soleh dan berbudi luhur.

Pusar Bumi.
Disebut juga Puser Bumi. Bentuknya mirip Udan Mas tetapi dengan skala yang jauh lebih besar, minimal sebesar koin limapuluh rupiah dan kadang sampai 8 cm, terutama pada bilah tombak. Pamor ini tergolong pamor miring, merupakan lingaran yang berlapis dan bukan
melingkar seperti obat nyamuk, tuahnya baik tetapi pemilih dan tidak semua orang “kuat” memilikinya. Umumnya dipercaya sebagai pamor yang baik untuk menjaga rumah.

Lintas Mas.
Letaknya dibagian tengah sor-roran, paling sedikit jumlah pusaran-pusarannya ada lima buah. Baik untuk berdagang terutama perhiasan. Pamor ini pemilih dan tuahnya hanya bisa dirasakan oleh yang cocok saja.

Sodo Saler.
Bentuknya merupakan garis lurus dari sor-soran keujung bilah. Tuahnya untuk kewibawaan dan keprajuritan serta meneguhkan dalam mencapai cita-cita, baik untuk militer atau yang berambisi mencapai sesuatu cita-cita. Tergolong pemilih.

Nur.
Letaknya ditengah sor-soran, mirip huruf S. tuahnya baik terutama untuk guru, pemimpin atau orang yang dituakan serta wibawanya besar, punya sifat pelindung dan tempat bertanya orang lain. Sifatnya pemilih, untuk yang masih “muda” umumnya kurang kuat.

Sekar Susun.
Hampir seperti Melati Rinonce tetapi ukuran bunganya lebih besar. Bentuk bunga seperti bulatan pada pamor Bendo Segodo. Memudahkan dalam mencari rejeki dan tidak pemilih. Hanya ditemukan pada keris keris yang relatif muda.

Sekar Tebu.
Hampir seperti Blarak Ngirid atau Sinered, tetapi ujungnya tidak sampai kebilah keris, malainkan agak mengumpul ditengah saja dan guratannya lebih halus. Tidak pemilih dan tuahnya untuk kewibawaan dan kepemimpinan.

Klabang Sayuto.
Seperti paduan pamor Blarak Ngirid dan Naga Rangsang. Sepintas seperti seekor klabang dengan kaki seribunya. Dipercaya bisa menambah kewibawaan dan kekuasaan. Pamor ini tergolong pemilih dan hanya cocok bagi yang memegang posisi pimpinan.

Manggar.
Mirip untaian Bunga Kelapa. Merupakan kumpulan dari bentuk pamor macam pamor Wiji Timun tetapi letaknya sering menyudut, bersusun dari sor-soran keujung bilah. Memudahkan mencari rejeki dan menonjol dalam lingkungan pergaulan. Tidak pemilih.

Jala Tunda.
Tergolong pamor pemilih. Tuahnya untuk ketenaran, untuk menonjol dalam lingkungandan tergolong pamor langka walau dari teknik pembuatan tidak terlampau sukar. Sepintas mirip pamor Wengkon tetapi lebar dan pada bagian dalam ada lekuk-lekuk yang terkadang simetris berhadapan tetapi pada bagian lain sering tidak simetris. Pamor Jala Tunda yang bagus, garis-garis yang menjadi wengkon biasanya halus dan rangkap banyak sekali.

Sumur Bandung.
Merupakan bulatan hitam besi tanpa pamor sebesar uang logam lima puluh sen-an atau lebih kecil sedikit letaknya ditengah bilah, diantara pamor – biasanya Wos Wutah nggajih atau Pendaringan Kebak nggajih. Banyak terdapat pada keris buatan Madura. Tergolong pamor pemilih dan paling cocok buat keprajuritan, militer atau yang belajar ilmu kekebalan.

Buntel Mayit.
Nama yang menyeramkan, artinya “pembungkus mayat”. Tergolong pamor sangat pemilih. Kalau cocok akan cepat menanjak kariernya atau kekayaannya tetapi kalau tidak cocok bisa mendapatkan malapetaka. Karena itu bila menginginkan pamor ini sebaiknya ditanyakan dulu pada mereka yang tahu agar bisa dilihat cocok atau tidaknya.

Jarot Asem.
Ini termasuk pamor langka walau tampaknya sangat sederhana tetapi pembuatannya sangat sulit. Sepintas seperti jalinan serabut kasar, saling menyilang arahnya tetapi tidak ada kesan tumpang tindih. Pamor ini dipercaya memberikan pengarus baik pada pemiliknya, menjadi teguh hatinya dan besar tekatnya. Amat cocok bagi yang punya cita cita besar baik dalam pendidikan ataupun dalam pekerjaan.

Kendhit Gumantung.
Ini termasuk pamor tiba. Letaknya dibagian sor-soran dan biasanya bercampur pamor yang lebih dominan seperti Wos Wutah atau Ngulit Semangka. Baik untuk setiap orang. Dipercaya dapat menolak segala macam penyakit menular, jadi seperti anti wabah. Tetapi pemiliknya harus menjaga tingkah lakunya dan jangan sampai menyeleweng dari jalan yang lurus.

Kupu Tarung.
Sepintas seperti gambar kupu-kupu sedang berlaga. Namun esoterinya tidak ada sangkut paut dengan bidang laga, bahkan baik untuk pergaulan. Pamor ini tidak pemilih dan terletak sepanjang bilah dari sor-soran hingga ujung bilah.

Mrutu Sewu.
Mirip Udan Mas dan Sisik Sewu. Pamornya berupa bulatan besar dan kecil, rapat satu sama lainnya dan disela pamor yang berbentuk pusaran-pusaran itu ada semacam titiktitik pamor kecil. Pamor ini memudahkan mencari rejaki juga dipercaya orang memudahkan anak gadis atau janda dalam mencari jodoh dan pamor ini tidak pemilih.

Ratu Pinayungan.
Tergolong pamor tiban yang letaknya di sor-soran dan biasanya bercampur pamor dominan lainnya. Pengaruhnya baik pada pemiliknya, melindungi marabahaya, berwibawa dan punya pengaruh luas. Baik bagi seorang pimpinan tetapi tergolong keris pemilih.

Lawe Setukel.
Biasa disebut “benang setukel” atau “saukel”. Sepintas memang mirip benang yang diurai dari gulungannya. Keris ini cocok untuk polisi, militer atau pekerja lapangan. Banyak yang menganggap keris ini bisa menolak gunaguna dan keris ini tergolong pemilih.

Yogapati.
Hati-hatilah bila berjumpa dengan keris ini. Pamor ini punya pengaruh buruk sekali, terutama buat yang bekeluarga. Sering anak-anak sang pemilik sakit-sakitan atau bahkan meninggal. Sebaiknya dilarung saja.

Kinasihan.
Ini pamor baik dan tidak pemilih, tuahnya disayang dan dihormati orang sekeliling. Factor rejeki juga baik, bisa lumintu (selalu ada saja).

Kalacakra.
Tergolong pamor langka. Untuk penguasaan wilayah, kekuasaan dan kewibawaan serta kepemimpinan. Baik dipakai oleh pemimpin masyarakat. Ada faktor penolak bala dan guna-guna.

Bungkus.
Bentuknya sederhana, Cuma gambaran seperti tonjolan berlekuk-lekukbagai kepompong ulat dan letaknya di sorsoran. Tuahnya memudahkan mencari rejeki, hemat serta merupakan pamor yang tidak pemilih. Paling cocok untuk pedagang atau pengusaha.

Slamet.
Bentuknya mirip bayi berjambul sedang tidur. Letaknya di sor-soran dan juga terdapat pada tombak atau pedang. Tuahnya adalah untuk keselamatan dan tergolong “singkir baya”, termasuk berguna untuk menolak guna-guna. Kelebihan dibanding pamor lain, pamor Slamet ini juga mencegah fitnah serta omongan negatif. Tidak pemilih dan cocok untuk semua orang.

Makrib.
Kadang disebut pamor Makarib. Tuahnya baik sekali, menyangkut kepemimpinan, rejeki dan keselamatan dalam perjalanan dan pamor ini tidak pemilih.

Telaga Membleng.
Bentuknya menyerupai gelang-gelang yang tidak begitu bulat dan paling sedikit ada tiga gelang-gelang. Letaknya pada bagian pejetan (blumbangan) dibelakang gandhik. Tuahnya untuk penumpukan harta dan rejeki, yang sudah kita terima sukar keluar lagi kecuali untuk hal yang bermanfaat. Baik buat orang yang pemboros agar bisa lebih hemat dan pamor ini tidak pemilih.

Panguripan.
Disebut juga pamor Ngurip-urip, mirip pamor Tamsul Kinurung tetapi bentuk utamanya bukan jajaran genjang melainkan lingkaran-lingkaran yang pada satu sisinya seperti meleleh. Letaknya ditengah sor-soran, tuahnya seperti namanya untuk memudahkan mencari sandangpangan, rejeki. Pamor ini istimewa dan kadang bisa digunakan untuk mengusir mahluk halus. Perbawanya dijauhi binatang buas. Termasuk pamor tidak pemilih.

Dikiling.
Ada yang menyebut pamor Dingkiling atau Cengkiling, tuahnya buruk bagi yang sudah berumah tangga. Sering ruwet, cekcok dan tidak tentram bahkan bisa jadi rumahtangganya akan bubar.

Ganggeng Kanyut.
Tuahnya seperti Sekar Lampes, tetapi yang menonjol justru kewibawaannya, tergolong juga pamor pemilih.

Unthuk Banyu.
Mirip dengan air berbuih, tuahnya untuk rejeki dan pergaulan serta mengurangi sifat boros. Tergolong tidak pemilh.

Wengkon.
Ada yang menyebut pamot Tepen, ada yang menyebut Lis-lisan. Bentuknya merupakan alur pamor yang merata sepanjang pinggiran bilah keris. Tuahnya macam-macam, ada yang bersifat perlindungan bagi pemiliknya agar terhindar dari bahaya. Ad yang memberikan perlindungan terhadap godaan batin, ada pula yang menambah rasa hemat. Pamor ini tidak pemilih.

Tejo Kinurung.
Seperti perpaduan pamor Sada Saler dan Wengkon, tuahnya cenderung seperti Sada Saler yaitu berkaitan dengan kepemimpinan dan derajat. Tergolong pemilih.

Wiji Semen.
Tergolong pamor rekan dan juga pemilih. Tuahnya melindungi dari guna-guna atau mahluk halus. Tergolong pamor miring yang menempati bagian bilah dari sor-soran sampai keujung bilah.

Tumpuk.
Terletak dibagian sor-soran, bentuknya menyerupai garis melintang antara tiga sampai lima lapis, manfaatnya seperti Udan Mas, memudahkan “menumpuk” rejeki. Pada umumnya kerisnya lurus dengan dapur kalau tidak Tilam Upih atau Brojol.

Rojogundolo (A).
Sebagian orang menyebut Gundolorojo. Umumnya terletak ditengah sor-soran, namun adakalanya terletak agak ketengah bilah keris. Bentuknya mirip gambar mahluk yang menakutkan, kadang seperti perempuan kadang seperti laki-laki atau juga hewan. Rojogundolo yang bertuah biasanya yang dari pamor tiban dan bukan rekan.

Rojogundolo (B).
Umumnya bersifat perlindungan terhadap pemiliknya, bisa digunakan menolak guna-guna, memindahkan mahluk halus, membersihkan rumah “angker” bahkan jika kerisnya istimewa bisa digunakan menyembuhkan orang yang kesurupan. Tergolong pamor tidak pemilih dan bisa juga terdapat di tombak atau pedang.

Uler Lulut.
Pamor Uler Lulut bentuk gambaran pamor Uler Lulut agak mirip dengan Pamor Bendo Segodo. Bedanya, pada Pamor Uler Lulut ukuran bulatan-bulatannya lebih kecil, namun lebih rapat satu sama lainnya, sehingga menyatu. Ditinjau dari tehnik pembuatannya, pamor ini tergolong pamor mlumah dan termasuk pamor rekan. Kata “uler lulut” dalam Bahasa Indonesia artinya ular jinak. Tuah dan angsar pamor uler lulut, bagi sebagian pencinta keris, adalah untuk membantu memudahkan datangannya rezeki bagi pemliknya. Selain itu sang pemilik akan lebih luwes dalam pergaulan, sehingga banyak kawannya. Dalam bidang pekerjaan ia akan disayang dan dipercaya atasannya. Pamor ini tergolong tidak pemilih siapa saja akan cocok memilikinya.
Pamor Asihan.
Bentuknya sama dengan Ngulit Semangka hanya pamornya menyambung antara bilah dan ganjanya, karena tuahnya memperlancar pergaulan termasuk antar jenis, maka pamor ini disebut Asihan. Secara lengkap disebut Pamor Ngulit Semangka Asihan. Ada juga Wos Wutah Asihan tetapi jarang sekali. Kedua pamor Ngulit Semangka dan Wos Wutah ini tidak pemilih tetapi pada pamor Asihan keris itu menjadi pemilih dan tidak setiap orang cocok.

Pancuran Mas.
Pamor ini juga ornamennya dari bilah menyebrang ke Ganja. Pada bilahnya pamor ini sama betul dengan sada Saeler tetapi pada bagian ganja berbentuk cabang seperti lidah ular. Tuahnya dianggap sama dengan Udan Mas dan tergolong tidak pemilih, cocok untuk semua orang.

Adeg Iras.
Pamor Adeg yang menyebrang langsung ke Ganja, tetap bukan ditambahi Asihan melainkan dengan tambahan Iras menjadi Adeg Iras dan tuahnya sama dengan pamor Adeg lainnya.

Bungkalan.
Ini bukan nama pamor tetapi bentuk pamor pada ujung bilah keris atau tombak, pamor apapun apabila pada dekat ujung bilah bercabang dua dan kedua cabang itu menerjang tepi bilah dinamakan pamor Bungkalan. Sepintas seperti lidah ular. Ron Pakis Ron Genduru Mayang Mekar.

Pamengkang Jagad.
Ada celah memanjang ditengah bilah yang disebabkan retak, paling banyak terjadi dikeris dengan pamor miring. Ini terjadi saat membuat saton sewaktu penempaan suhunya kurang tinggi sehingga ada bagian tertentu yang penempelan besi dan bahan pamornya atau dengan lapisan besi lainnya kurang sempurna. Tetapi ini baru diketahui setelah keris jadi, terutama waktu nyepuhi tiba tiba keris itu retak. Jadi dari segi teknik pembuatan keris ini tergolong mis-product. Karena itu pulalah maka keris yang Pamengkang Jagad umumnya bukan keris yang mempunyai garap baik. Kalangan kraton juga menganggap keris ini tergolong tidak baik. Yang mengherankan kalangan luar keraton banyak yang menganggap ini keris baik, malah amat baik, ini juga disukai di Malaysia, Serawak, Brunei. Diduga ini dikarenakan keris dengan teknik lapis itu dibuat oleh empu keraton sehingga biasanya selalu baik dan mis-product juga tetap dianggap baik mutunya. Dari segi esoteri keris Pamengkang Jagad termasuk pemilih, tidak semua orang bisa cocok, tuahnya bisa dirasakan juga oleh orang sekelilingnya, dianggap cocok untuk orang yang mempunyai kekuasaan diwilayah tertentu seperti Bupati, Komandan Kodim dsb.

Pegat Waja.
Keris ini juga keris retak, Cuma retaknya bukan antara besi dengan besi atau besi dengan pamor melainkan antara saton dan lapisan bajanya. Oleh karena itu keris Pegat Waja hanya akan terjadi pada keris-keris yang dilapisi baja saja. Keratakan ini terjadinya bukan vertical permukaan bilah, melainkan horizontal. Mirip dengan keretakan pada kayu Plywood yang tertimpa hujan (nglokop), keris ini sebaiknya dibuang atau dilarung saja karena kurang baik.

Rejang Landep.
Ini bukan nama salah satu pamor tetapi alur pamor tidak mengarah kealur ditengah melainkan ada bagian (ujungnya) keluar dari bilah (lihat gambar). Apapun pamornya, keris ini tuahnya buruk dan biasanya membawa suasana sengketa serta salah pengertian. Tetapi
ada juga yang menyimpan dengan maksud tuah keris ini bisa membantu bila yang punya
melakukan suatu kesalahan dan bisa terhindar dari hukuman. Keris yang telah auspun pamornya bisa berubah menjadi Rejang Landep.

Masih banyak lagi pamor yang belum terdata disini, pamor buatanpun sering tidak terdata dengan baik dan kadang penamaan pamor juga hanya berdasarkan gambar yang terjadi belum ada padanannya atau juga karena timbul kreasi baru dari sipemesan keris kepada sang empu agar dibuatkan pamor seperti rancangannya. Semua masukan mengenai pamor yang baik tercantum didalam tulisan ini ataupun belum tercantum sangat diharapkan untuk melengkapi data dan kekayaan informasi pamor agar informasi itu tidak hilang begitu saja.

Setelah anda memahami Nama Dapur dan Pamor Keris Pusaka sertau tahu Keris Mana Yang Paling Melegenda saatnya wajib membaca Ilmu Tentang Apa Itu Tangguh Keris Pusaka :

Ilmu tangguh adalah pengetahuan (kawruh) untuk memperkirakan jaman pembuatan keris, dengan cara meneliti ciri khas atau gaya pada rancang bangun keris, jenis besi keris dan pamornya.

Tangguh

Tangguh arti harfiahnya adalah perkiraan atau taksiran. Dalam dunia perkerisan maksudnya adalah perkiraan zaman pembuatan bilah keris, perkiraan tempat pembuatan, atau gaya pembuatannya. Karena hanya merupakan perkiraan, me-nangguh keris bisa saja salah atau keliru. Kalau sebilah keris disebut tangguh Blambangan, padahal sebenarnya tangguh Majapahit, orang akan memaklumi kekeliruan tersebut, karena bentuk keris dari kedua tangguh itu memang mirip. Tetapi jika sebuah keris buatan baru di-tangguh keris Jenggala, maka jelas ia bukan seorang ahli tangguh yang baik.

Walaupun sebuah perkiraan, tidak sembarang orang bisa menentukan tangguh keris. Untuk itu ia perlu belajar dari seorang ahli tangguh, dan mengamati secara cermat ribuan bilah keris. Ia juga harus memiliki photographic memory yang kuat.

Dalam catatan kuno, dituliskan ciri-ciri secara tertulis. Notasi itu meyakini akan adanya sebuah gaya atau langgam dari setiap kerajaan. Artinya pada jaman Majapahit diyakini kerisnya memiliki beberapa ciri gaya atau langgam yang seragam. Begitu pula jaman kerajaan Mataram dan seterusnya jaman kerajaan Surakarta Hadiningrat diyakini memiliki gayanya masing-masing.

Keyakinan terhadap bahan besi dan pamor juga menjadi panduan dalam ilmu tangguh ini.

Adapun pembagian tahapan-tahapan zaman itu adalah sebagai berikut:
1. Kuno
(Budho) tahun 125 M – 1125 M
meliputi kerajaan-kerajaan: Purwacarita, Medang Siwanda, Medang Kamulan, Tulisan, Gilingwesi, Mamenang, Pengging Witaradya, Kahuripan dan Kediri.

2. Madyo Kuno
(Kuno Pertengahan) tahun 1126 M – 1250 M.
Meliputi kerajaan-kerajaan : Jenggala, Singosari, Pajajaran dan Cirebon.

3. Sepuh Tengah
(Tua Pertengahan) tahun 1251 M – 1459 M
Meliputi Kerajaan-kerajaan : Jenggala, Kediri, Tuban, Madura, Majapahit dan Blambangan.

4. Tengahan
(Pertengahan) tahun 1460 M – 1613 M
Meliputi Kerajaan-kerajaan : Demak, Pajang, Madiun, dan Mataram

5. Nom
(Muda) tahun 1614 M – 1945
Meliputi Kerajaan-kerajaan : Kartasura dan Surakarta.

6. Kamardikan 1945 hingga seterusnya.
Adalah keris yang diciptakan setelah Indonesia merdeka, 1945.
Pada waktu itu pun raja di Surakarta Hadiningrat ke XII mendapat julukan Sinuhun Hamardika. Keris yang diciptakan pada era ini masuk dalam penggolongan keris kamardikan.

Tangguh merupakan seni yang digandrungi oleh komunitas pecinta keris, karena disini terletak suatu seni dalam nilai kemampuan; semacam uji kemampuan dari sesama penggemar keris. Tangguh juga menjadi sebuah nilai pada harga sebilah keris … sesuai trend yang ada dari masa ke masa.

Tangguh dalam kamus bahasa Jawa (S. Prawiroatmodjo) diartikan sebagai ’boleh dipercaya’, ’tenggang’, ’waktu yang baik’, ’sangka’, ’persangkaan’, ’gaya’, ’lembaga’, ’macam’ (keris).

Namun demikian, tuntutan modernitas dan keinginan yang kritis (sisi ilmiah) masa kini, tangguh dituntut menjadi pasti (exact), artinya ilmu tangguh akan bergeser menyesuaikan jaman untuk dapat melengkapi salah satu kriteria dalam melakukan sertifikasi sebilah keris. Tuntutan ini adalah hal yang realistik karena generasi muda tak lagi menyanjung ’sesepuh’ yang belum tentu memiliki wawasan yang benar. Penyanjungan sesepuh adalah ciri etnografis dari budaya paternalistik dalam sub kultur Jawa (Nusantara). Namun demikian ’ilmu tangguh’ harus tetap dipertahankan keberadaannya, kepercayaan pada sesepuh akan bergeser pada sertifikasi suatu badan bahkan mungkin institusional berskala nasional.

Dalam sisi pandang yang kritikal pada abad modern ini, tangguh menjadi sebuah rangsangan baru untuk meneliti secara lebih pasti, betul dan tepat (exact) menentukan sebilah tangguh keris. Maka tingkat pengetahuan yang tertuang pada masa dulu melalui catatan, buku dan naskah kuno menjadi sebuah catatan yang masih kurang memenuhi hasrat keingin-tahuan perkerisan pada saat sekarang. Catatan atau buku kuno tidak melampirkan contoh sketsa atau foto apa yang dimaksudkan pada uraiannya. Tulisan kuno tentang tangguh juga belum bisa menjamin si penulis adalah orang mengetahui keris, bisa jadi penulis adalah seorang pujangga yang menulis secara puitis, karena waktu itu memang tidak memiliki target bahwa tulisannya akan menjadi sebuah kawruh yang meningkat menjadi ilmu seni menangguh.

Ilmu tangguh sering menjadi sebuah polemik, karena terkendala oleh banyak hal, antara lain; kendala wawasan, kendala tempat (domisili atau keberadaan), kendala oleh narasumber yang sebetulnya berskala lokal, kendala oleh karena minat atau selera pada jenis keris dan banyak sekali hal-hal yang memancing perdebatan.

Salah satu cara untuk membangun sebuah ”ilmu tangguh” yang representatif tentu harus melakukan pendataan dan penelitian ulang, salah satunya adalah dengan meneliti penyesuaian antara keris penemuan (artefak) dengan situsnya (geografis); meneliti dan mengkaji ulang catatan kuno dan memperbandingkannya satu buku dengan buku yang lain. Saat ini pun di perpustakaan keraton masih banyak sumber yang dapat menjadi referensi, baik buku-buku bahkan contoh keris berserta kekancingannya.

Dibawah ini diberikan ciri-ciri beberapa tangguh yang diambil dari beberapa sumber. Untuk dapat menentukan tangguh yang bersangkutan harus belajar dari mereka yang  tahu, membaca buku keris dan juga banyak melihat keris, itu pun hasilnya terkadang tidak memuaskan :

1. Tangguh Segaluh

Mempunyai pasikutan kaku tetapi luruh. Besinya berkesan kering, warnanya hitam pucat kehijauan. Pamornya kelem. Panjang bilahnya bermacam-macam ada yang panjang, ada pula yang pendek. Gandiknya maju ke depan, sehingga ganjanya selalu panjang.

2. Tangguh Jenggala

Pasikutannya (tampilan) : luwes, birawa. Ukuran panjang bilahnya agak berlebihan dibandingkan tangguh lainnya, demikian juga lebar bilahnya, terutama di bagian sor-soran. Luknya luwes merata. Sirah cecak pada bagian ganja bentuknya lonjong memanjang. Ganjanya pendek tapi tinggi, wadidangnya tegak, ada-ada seperti punggung sapi, Sogokan tanpa pamor. Besi : Padat, halus dan kehitaman Pamor : mrambut, panjang-panjang, seperti rambut putih, Lumer pandes, tapi ada juga yang mubyar

3. Tangguh Singosari

Pasikutannya : Kaku dan wingit. Gandiknya berukuran sedang, agak miring. Sirah cecak pada ganja bentuknya lonjong memanjang. Ukuran Panjang bilahnya sedang, ujungnya tak begitu runcing. Besi : abu-abu kehitaman, nyabak (bagai batu tulis). Pamor : menancapnya pamor pada permukaan bilah lumer dan pandes, Penampilan pamor biasanya lembut dan suram (kelem).

4. Tangguh Pajajaran

Pasikutan : Agak “Kaku” dan kasar. Bilahnya agak “panjang” dibandingkan keris tangguh lainnya. ada kesan ramping. Gandik panjang dan terkadang miring. Sirah cecaknya lonjong  memanjang. Ganja ambatok mengkurep. Blumbangan atau pejetan lebar, sogokan agak dalam dan pendek. Kadang luknya kemba (dangkal). Besi : Cenderung kering, keputih-putihan
Pamor : Biasanya pamor tiban, kesan Pamor cenderung ngegajih (berlemak)

5. Tangguh Pengging

Pasikutan : sedang, ramping, garapannya rapi. Jika keris luk, luknya rengol sekali. (Rengkol = dalam). Gulu melednya panjang. Besi : berwarna hitam dan terkesan basah. Pamor : Bersahaja (sederhana), lumer pandes.

6. Tangguh Blambangan

Pasikutannya : demes (Rapi mengesankan, enak dipandang). Kesan besi : keputih-putihan, padat, berkesan basah, diraba keras. Pamor : Gajih, tapi ada juga yang merambut.

7. Tangguh Sedayu

Pasikutan : agak enak dipandang (dhemes sakedhik). Ganja : sebit lontar. Agak panjang. Gandhik : pendek miring. Sogokan : pendek serasi. Yang Luk : rapat nurut (keker nurut). Sosok bilah sedang sampai panjang. Besi : kurang bercahaya (kirang guwaya). Rabaan : licin (lumer). Baja : sedang. Pamor : kurang, namun keluarnya menyala putih merambut (mubyar pethak angrambut). Menetapnya pamor : mengambang.

8. Tangguh Tuban

Ganja berbentuk tinggi – berbulu, sirah cecak tumpul, potongan bilah cembung dan lebar. Kesan Besi : Kesannya kering, kadar bajanya banyak
Pamor : Menyebar, kesan gajih / berlemak

9. Tangguh Sendang

Kesan besi : Hitam, padat , dengan kesan basah. Pamor : Kurang padat seolah mengambang

10. Tangguh Demak

Kesan besi : Hitam kebiruan. Kesannya basah. Pamor : mengambang, kurang mantap

11. Tangguh Pajang

Pasikutan : kendor (odhol). Ganja : sengoh sebit lontar condong ke panjang. Gandhik : panjang miring. Sogokan : panjang. Yang Luk : luk-lukan rapat gagah (keker berawa). Besi : hitam (gangsing). Baja : sedang, kurang matang Pamor : tidak direncanakan, namun keluarnya menyala putih (pethak mubyar), keluarnya sekendaknya.

12. Tangguh Umyang : Tangguh Supo Pajang Kyai Kedhe

Ganja : lancip panjang. Gandhik : pendek. Kembang kacang : sedang. Tikel alis, pejetan dalam. Luk : rapat , mengarah ke kiri (kedhe). Bilah : tebal. Sosok bilah : panjang. Besi : halus dan kering, halus. Pamor : kasar dan beberapa menyala seperti perak. Buatannya halus dan bersih. Keris buatan Empu Umyang ini sangat bagus dimiliki pengusaha yang berkecimpug dalam menggandakan uang. 

13. Tangguh Kudus 

Ganja : rata. Galu meled, sirah cecak : kecil dan pendek lancip. Buntuturang rata. Pamor kurang sempurna, hanya samar-samar. Kebanyakan keris Kudus kurang panjang, lebih pendek dari keris Surakarta.

14. Tangguh Bali

Ukuran bilah besar dan panjang, lebih besar dari ukuran keris jawa, Kesan Besi : besi berkilau. Pamor : besar halus dan berkilau.

15. Tangguh Madura Tua

Kesan besi : Besi kasar dan berat, sekar kacang tumpul. Pamor : besar-besar/agal / pamor mengkilap

16. Tangguh Mataram

Bentuk ganja seperti cecak menangkap mangsa, sogokan berpamor penuh, sekar kacang seperti gelung wayang, pamor tampak kokoh, dan atas puyuan timbul/menyembul (ujung sogokan). Kesan Besi : kebiru-biruan dengan kesan kering. Pamor : garapannya halus & putih jelas

17. Tangguh Kartosura

Besi agak kasar, bila ditimang agak berat, bilah lebih gemuk, ganja berkepala cicak yang meruncing. Kesan besi : keputih-putihan, bajanya kurang
Pamor : Jelas putih tapi terlihat seperti mengambang

18. Tangguh Surakarta

Bilah seperti daun singkong, puyuan meruncing, gulu meled pada ganja pendek, odo-odo dan bagian lainnya tampak manis dan luwes. Kesan besi : halus. Pamor : Menyebar penuh

19. Tangguh Yogyakarta

Ganja menggantung, Kesan besi : halus dan berat. Pamor : menyebar penuh keseluruh bagian bilah.

20. Tangguh Koripan

Pasikutan : hambar. Besi : gangsing (hitam legam). Pamor : sanak dan samar-samar adeg.

21. Tangguh Mataran Senopaten

Pasikutan : tangkas (parigel), galak tetapi tampan. Besi : agak kebiruan. Menetapnya pamor : tandas seperti kawat kencang. Ganja : sebit lontar. Ganja keris Mataran Senopaten banyak yang wulung artinya bahan besinya bukan dari bahan bilah.

22. Tangguh Mataram Sultan Agung

Pasikutan : dhemes bagus (tampan, enak dipandang). Besi : agak mentah. Pamor : mubyar putih menyala. Baja : kurang.

23. Tangguh Kuwung dan Tapan

Keris-keris buatan Empu Kuwung dan Empu Tapan yang hidup sejaman dengan jaman keraton Pajajaran. Gaya garapan dan pasikutannya juga mirip dengan Tangguh Pajajaran.

24. Tangguh Sukuh 

Sejaman dengan jaman keraton Majapahit. Gaya garapan dan pasikutannya mirip dengan Tangguh Majapahit.

25. Tangguh Tuban Taruwangsa, Pekajoran,, Semarang di Tembayat.

Sejaman dengan jaman keraton Demak. Gaya dan pasikutannya mirip dengan buatan Demak, Tuban dan Majapahit.

26. Tangguh Sastrotoya (Setrotoya), Sastrolatu (Setrolatu), Supokaripan.

Sejaman dengan jaman Keraton Mataram.  Gaya dan pasikutannya mirip dengan buatan Mataram. Gaya dan pasikutannya mirip dengan buatan Mataram. Keris-keris buatannya bertuah untuk menolak banjir (toya) dan api (latu). Kebanyakan berpamor adeg sapu, meski tidak selalu. Keris-keris karya empu ini biasanya untuk menolak api atau mencagah bahaya air/hujan badai.

27. Tangguh Surakarta

Semasa  pemerintahan Sri Susuhunan Paku Buwono IV hingga IX, banyak dibuat keris, tombak dan pedang bermutu tinggi. Diantara empu keris yang terkenal adalah Empu Supo Brojoguno, Empu Supojogokariyo, Empu Supobrojokariyo, Empu Supobrojoguno, E. Supobrojojoyo dan E. Suposingowijoyo. Keris-keris buatannya umumnya panjang dan tebal. Pamornya : pamor Prambanan, indah garapannya dengan sentuhan seni yang tinggi mutunya.

28. Tangguh Ngayogyokarto Hadiningrat

Menurut penilaian  GBPH Yudoningrat, masing-masing jaman pemerintahan raja, keris buatannya (Yasan) mempunyai ciri tersendiri. Yasan Sri Sultan HB I bersifat weweg (tegap) sembodo, bilah berawa (besar). Yasan Sri Sultan HB V (Riyokusuman) relatif lebih pendek, mirip karya Majapahit. Yasan Sri Sultan HB VI dan VII, bilah relatif besar dan tebal. Yasan Sri Sultan HB VIII, besar tetapi kurang panjang (ageng kirang dedeg). Yasan Sri Sultan HB IX, pasikutan wingit, sederhana. Yang dimaksudkan yasan adalah karya empu kolektif abdidalem raja.

Yang jelas, Tangguh Ngayogyakarta Hadiningrat merupakan campuran Tangguh Majapahit dan Mataram. Sosok bilah sedang tidak terlalu panjang tetapi juga tidak terlalu pendek. Bilahnya tidak ngadhal meteng (besar ditengah) atau kempot (kecil di tengah). Pasikutannya wingit.

29. Tangguh Kadewan

Keris dibuat tanpa api. Empunya : Empu Ramadi, dan Empu Onggojail. Bilah : tebal, sosok bilah tebal nglimpa, besi halus/licin pamornya hanya sedikit.

30. Tangguh Purwocarito

Bilah umumnya pendek tebal, lebar, besi halus. Ganja mbathok mengkurep, pendek tapi gemuk.

31. Tangguh Sigaluh (Segaluh)

Pasikutan : kaku hampir sama dengan Tangguh Pajajaran, Majapahit. Besi : ngrekes dan berserat, terkesan mentah. Baja : keras, Tegaknya Bilah : tegak sampai sedikit agak condong ke kiri. Ghandik : menonjol. Ganja : bathok mengkurep sampai rata. Sosok bilah : tipis dan kering. Keris Sigaluh sangat menyolok bagian sor-sorannya yang menyerupai kursi terbalik, bagian depan menonjol, ganja menonjol ke depan.

32. Tangguh Bugis 

Pasikutan : kaku dan galak. Besi : agak mentah, berat jika ditanting. Rabaan : sangat kasar, tapi ada beberapa yang halus. Pamor : agal (kasar) dan berlemak, ada beberapa mubyar nyalaka. Sepuhan besi : sangat matang. Tanda : khas pesi relatif  lebih pendek dari pada keris sejenisnya dari Jawa. Tegaknya bilah sedikit membungkuk.

33. Tangguh Lombok dan Kupang

Pasikutan : Kaku dan galak, Besi : berat, jika ditanting terasa berat. Rabaan : nggrasak, wasuhan kurang matang. Pamor : putih berserat-serat. Kembang kacang : sering dilengkapi dengan jenggot. Begitu juga bilahnya terkadang diberi hiasan pundhak setegal.

34. Tangguh Empu Ni-Mbok Sobro (termasuk Tangguh Tuban)

Yang banyak di masyarakat keris Sombro ini tidak memiliki ricikan apa-apa. Besi : halus, licin, kering. Bilah : lebar dan tipis. Pesi : pipih dan dipilin (diuntir), ujungnya berlubang seperti lubang jarum. Pada permukaan bilahnya terdapat pijitan bekas ibu jari, belekuk-lekuk, jumlahnya bisa 3-5. konon keris Sombro dibuat tanpa api. Ganja : iras kecil. Sirah cecak : bulat, buntut urang : rata. Pamor : jika ada sangat halus. Tegaknya bilah : kurang serasi. Keris Sombro banyak digunakan untuk meredam keris panas, ukurannya kecil saja, disebut juga keris Tindhih.

35. Tangguh Guling Mataram (Guling adalah Empu Jaman Mataram)

Pasikutan : wingit. Ganja : lancip, sebit lontar. Luk-lukan : rapat nurut. Kembang kacang : membulat. Pejetan, tikel alis : lebar dan dalam, serasi. Pamor ; halus, mubyar menyala seperti perak. Ada-ada : ditengah seperti Punggung Sapi. Pesi : seperti diuntir (dipilin). Yang benyak beredar : Luk 11 dan 13.

36. Tangguh Bagelen

Ganja : mbathok mengkurep. Gandhik : lebar tapi pendek. Bilah : besar dan nglimpa. Pamor : mubyar nyalaka. Sepintas keris Begelen menitu Tangguh Mataram.

Ada beberapa tangguh keris diantaranya :

1. Tangguh Segaluh (Abad 12)
2. Tangguh Pajajaran (Abad 12)
3. Tangguh Kahuripan (Abad 12)
4. Tangguh Jenggala (Abad 13)
5. Tangguh Singasari (Abad 13)
6. Tangguh Majapahit (1294-1474)
7. Tangguh Madura (1294-1474, Era Invansi Kerajaan Majapahit)
8. Tangguh Blambangan (1294-1474, Era Invansi Kerajaan Majapahit)
9. Tangguh Sedayu (1294-1474, Era Invansi Kerajaan Majapahit)
10. Tangguh Tuban (1294-1474, Era Invansi Kerajaan Majapahit)
11. Tangguh Sendang (1294-1474, Era Invansi Kerajaan Majapahit)
12. Tangguh Pengging (1475-1479)
13. Tangguh Demak (1480-1550)
14. Tangguh Pajang (1551-1582)
15. Tangguh Madiun (Abad 16)
16. Tangguh Koripan (Abad 16)
17. Tangguh Mataram (1582-1749)
a) Panembahan Senapati – Sutawijaya (1582-1601)
b) Panembahan Seda Krapyak – Mas Jolang (1601-1613)
c) Sultan Agung – R.M. Rangsang (1613-1645)
d) Amangkurat I – Seda Tegal Arum (1645-1677)
e) Amangkurat II (1677-1703)
f) Amangkurat III – Sunan Mas (1703-1705)
g) Paku Buwono I – Sunan Puger (1705-1719)
h) Amangkurat IV – Sunan Prabu (1719-1725)
i) Paku Buwono II (1725-1749)
18. Tangguh Cirebon (Abad 16)
19. Tangguh Surakarta (1749-sekarang)
a) Paku Buwono III (1749-1788)
b) Paku Buwono IV (1788-1820)
c) Paku Buwono V (1820-1823)
d) Paku Buwono VI (1823-1830)
e) Paku Buwono VII (1830-1858)
f) Paku Buwono VIII (1858-1861)
g) Paku Buwono IX (1861-1893)
h) Paku Buwono X (1893-1939)
i) Paku Buwono XI (1839-1944)
j) Paku Buwono XII (1944-sekarang)
20. Tangguh Yogyakarta (1755-sekarang)
a) Hamengku Buwono I – P. Mangkubmi (1755-1792)
b) Hamengku Buwono II – Sultan Sepuh (1792-1810)
c) Hamengku Buwono III (1810-1814)
d) Hamengku Buwono IV (1814-1822)
e) Hamengku Buwono V (1822-1855)
f) Hamengku Buwono VI (1855-1877)
g) Hamengku Buwono VII (1877-1921)
h) Hamengku Buwono VIII (1921-1939)
i) Hamengku Buwono IX (1939-1990)
j) Hamengku Buwono X (1990-sekarang)

Sedangkan Bambang Harsrinuksmo dalam bukunya Eksiklopedi Budaya Nasional. Keris dan senjata tradisional Indonesia lainnya memabagi Tangguh / periodesasi Jaman pembuatan keris di Pulau Jawa , mambagi menjadi 20 masa / tangguh. Diantaranya

1. Jaman Kabudan (Abad 6-9)
2. Kahuripan (Abad 11 an)
3. Jenggala (Abad pertengahan 11)
4. Singasari (Abad pertengahan 11)
5. Madura Tua (Abad 12-14)
6. Pajajaran (Abad 12-14)
7. Segaluh (Abad 13 an)
8. Tuban (Abad 12-18)
9. Blambangan (Abad 12-13)
10. Majapahit (Abad 13-14)
11. Pengging Witaradya (Abad 13 an)
12. Demak (Abad 14 an)
13. Pajang (Abad 14 an)
14. Mataram Senopaten (Abad 14-15)
15. Mataram Sultan Agung (Abad 16)
16. Mataram Amangkurat (Abad 17)
17. Kartasura (Abad 18)
18. Surakarta (1726 – 1945)
19. Yogyakarta (1755 – 1945)
20. Republik Indonesia / Kamardikan (1945 – )

Ada lagi sebuah periode keris yang amat mudah di-tangguh, yakni tangguh Buda. Keris Buda mudah dikenali karena bilahnya selalu pendek, lebar, tebal, dan berat. Yang sulit membedakannya adalah antara yang asli dan yang palsu. Hanya penggemar tosan aji yang serius saja yang bisa membedakannya. Memang perlu jam terbang yang tinggi. Setiap orang pasti bisa.

Keris Buda dan tangguh kabudan, walaupun di kenal masyarakat secara luas, tidak dimasukan dalam buku buku yang memuat soal tangguh. Mungkin, karena dapur keris yang di anggap masuk dalam tangguh Kabudan dan hanya sedikit, hanya dua macam bentuk, yakni jalak buda dan betok buda.


Daftar Kata Pencarian :

  • Keris pusaka Melayu
  • Keris pusaka Jawa
  • Keris pusaka setan kober
  • Keris pusaka Keraton Solo
  • Keris pusaka syeh jangkung
  • Keris pusaka Raden Wijaya
  • Keris pusaka Bali
  • Keris pusaka Keraton Cirebon
  • Keris pusaka sang megantantra
  • Keris pusaka Sunan Kalijaga
  • Kersi pusaka Jokowi
  • Keris pusaka Majapahit
  • Keris pusaka Ciung Wanara
  • Keris pusaka Indonesia

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

Related : 200 Keris Pusaka Paling Dicari Dalam Dunia Perkerisan

0 comments:

Posting Komentar