Rabu, 10 Mei 2017

Empu-Empu Keris Pusaka Keraton Medhangkamulan, Keraton Purwacarito, Keraton Kedhiri, Keraton Pengging, Keraton Jenggala, Keraton Pajajaran dan Keraton Majapahit

Empu-Empu Keris Pusaka Keraton

Sebagai Orang berilmu tinggi, seorang Empu selalu mendapat tempat yang terhormat pada suatu jaman pemerintahan kerajaan-kerajaan jaman dahulu. Walaupun sering sekali seorang Empu tidak tinggal di pusat-pusat kerajaan, melainkan di tempat-tempat terpencil di lereng-lereng gunung, namun Empu-Empu itu selalu mewakili  jamannya dan mewakili kerajaan serta pusat pemerintahan tertentu dan Empu-Empu dari kerajaan dan daerah tertentu itu, melahirkan kreasi Keris-Keris dengan Tangguh tertentu pula.

Yang dimaksud dengan Tangguh adalah penampilan gaya atau modelnya, seperti halnya mobil buatan Jepang, memiliki model dan gaya yang lain dengan model mobil Amerika atau pun Eropa. Demikian juga dengan Tangguh Majapahit akan berbeda dengan Tangguh Kartasura. Keris-Keris pada jaman dan daerah yang sama memiliki Tangguh yang serupa, walaupun dibuat oleh Empu yang berbeda. Penampilan gayanya secara umum akan sama dan serupa, hanya beberapa ciri khas saja yang membedakan keris ini buatan Empu A dan keris itu buatan Empu B. 

Jadi bagi mereka yang menekuni di bidang keris, akan dapat meneliti sebuah keris buatan jaman apa dan siapa pembuatnya. Bahkan bagi mereka yang ahli, dapat pula merasakan keris ini cocok untuk siapa dan untuk khasiat apa.

Empu-Empu Keris Pusaka Keraton

Berikut para Empu-Empu Keris Pusaka yang terkenal pada jamannya yang diambil dari berbagai sumber : 
Empu Keris Pusaka pada Jaman Keraton Mendhangkamulan
  • Empu Ramayadi (142 Saka) : mengabdi di Medhangkamulan di kaki Gunung Pangrango dan Gede.
  • Empu Sakadi (218 Saka) : mengabdi pada Sang Raja Balya di Medhang Siwanda yang kemudian hari menjadi Madiun Jawa Timur.
  • Empu Sukasadi (230 Saka) : mengabdi pada Raja Berawa (Hyang Kala) di Keraton sebelah Utara Gunung Lawu atau Maendra di wilayah Hutan Tulyan di daerah Kuwu Grobogan.
  • Empu Bramakedhali (216 Saka) : mengabdi pada Raja Buddhawana (Hyang Brahma) di Mendhangsiwanda yang kemudian pindah ke Medhangkamulan.
  • Empu Saptagati (246 Saka) : mengabdi pada Raja Maha Prabu Buddha Kresno sebagai titisan Hyang Wisnu. Disebutkan Prabu Buddhawaka terpaksa keluar dari Mendhangkawulan karena kalah perang dengan Raja Berawa dari Hutan Tulyan. Negeri itu kemudian diduduki oleh Hyang Wisnu dan kemudian dinamakan negeri Purwocarito. Hyang Wisnu menjadi Raja di Negara itu.
Empu Keris Pusaka pada Jaman Keraton Purwocarito
  • Empu Sunggata (412 Saka) : mengabdi pada  Prabu Sri Kala di Purwocarito.
  • Empu Janggito : mengabdi pada Prabu Watugunung yang menggantikan kedudukan mertuanya Maharaja Kano.
  • Empu Dewayasa (422 Saka) : mengabdi pada Prabu Basupati di Wiratha.
  • Empu Mayang (725 Saka) : mengabdi pada Prabu Drestarasto di Astinapura.
  • Empu Sarpadewa (1062 Saka) : mengabdi pada Prabu Sri Maha Punggung.
Empu Keris Pusaka pada Jaman Keraton Kediri 
  • Empu Yamadi (1082 Saka) adalah adik dari Empu Bratadiluwih, mengabdi pada Prabu Gendrayana di Mamenang Kediri.
Empu Keris Pusaka pada Jaman Keraton Pengging (Kuno)
  • Empu Gandawisesa (1094 Saka) : mengabdi pada Raja Citrasoma di Pengging.
Empu Keris Pusaka pada Jaman Keraton Jenggala 
  • Empu Jangga (1119 Saka) : mengabdi pada Prabu Lembu Amiluhur di Jenggala.

Empu-Empu Keris Pusaka Keraton

Empu Keris Pusaka pada Jaman Kerajaan Pajajaran
  • Empu Windusarpa : oleh Prabu Kuda Laleyan ia diperintahkan membuat keris dapur Brojol dan Bethok (1170 Saka) disamping membuat duplikat (putran) pusaka-pusaka buatan sebelumnya.
  • Empu Andayasangkala : merupakan anak dari Windusarpa, Keris Pusaka buatannya berwatak keras dan sering dipergunakan untuk membunuh musuh. Oleh Prabu Banjaransari, Empu ini diperintahkan membuat Keris Pusaka dhapur Tilamupih dan Parungsari (1186 Saka) disamping membuat putran yang sudah ada.
  • Empu Kajatsari : merupakan anak dari Andayasangkala, oleh Prabu Mundingsari ia diperintahkan membuat keris dhapur Sinom dan Wora-wari (1228 Saka) disamping membuat duplikat keris-keris yang sudah ada.
  • Empu Kajatjatiwasesa : merupakan anak sulung dari Kajatsari.
  • Empu Bramakedhi atau Brahmakendhi : merupakan anak kedua Kajatsari.
  • Empu Kekep : seperti Empu Bramakedhi, dalam membuat Keris Pusaka, Empu ini selalu mengerjakan di lautan. Konon percikan apinya dapat menimbulkan penyekit cacar, sedangkan debunya dapat menyebabkan bisul cacar air dan gabagen/campak. Menurut kepercayaan kuno, penderita penyakit tersebut harus memanggil Empu Kekep da Empu Bramakendhi untuk menyembuhkannya.
  • Empu Anjani : merupakan anak Bramakedhi, terkenal suka bertapa di puncak gunung. Prabu Gandakusuma atau Sri Pamekas di Pajajaran memerintahkannya untuk membuata duplikat dari Keris dhapur kuna dan menciptakan keris dhapur Jalakngore dan Caritakalenthang (1260 Saka).
  • Empu Marcukundha, Empu Manca dan Kuwung : ketiganya pernah mengabdi pada Prabu Siyungwanara atau Maharaja Sakti di Pajajaran. Marcukundha membuat tombak dhapur Sigarjantung, Gereh Pethek, Ron Pring, Barengkeng dan Prajurit. Semua tanpa pamor, hanya besi dan baja, sifatnya ampuh meskipun tidak disepuh.
  • Empu Sanggabumi : merupakan anak sulung dari Marcukundha yang berkelana di tanah seberang dan kemudian menetap di Minangkabau. Karyanya berupa pedang Minangkabau yang sangat ampuh. 
  • Empu Manca : merupakan anak kedua dari Empu Marcukundha, buatannya berupa pedang, golok, towok dan panguntik. Semua berpamor Beras Wutah dan halus sekali, Semuanya disepuh dilat dan amat ampuh.
  • Empu Kuwung : merupakan anak dari Empu Manca, wajahnya tampan. Hasil karyanya biasanya juga cantik. Besinya ngelar glathik atau seperti kaca. Bersama Empu Manca, dia diperintahkan membuat putran pusaka kuna-kuna dan membuat Keris Pusaka dhapur Jangkung dan Pandhawa Cinarita (1284 Saka).  
  • Empu Hangga  atau sering disebut Hangga Tapan karena tinggal di Desa Tapan. Hasil karyanya semua kering seperti dijemur dan nglugut (seperti kawat-kawat halus). Suatu hari ia mendapat bisikan untuk membuat Keris di lautan dan berganti nama menjadi Empu Singkir. Hal itu terjadi di Jaman Majapahit, beliau diperintahkan semingkir dari rumahnya. Keris buatannya bertuah menolak api dan air. Ia pernah diperintahkan membuat keris dhapur Jala Sangu Tumpeng, Jalak Sumelang Gandring, Mangkurat dan Mangkunegoro (1303 Saka).
  • Empu Keleng : Empu Keleng kemudian disebut Empu Kasa, anak ketiga Empu Manca. Keris buatannya nglugut dan pamornya patah-patah/nungkak. 
  • Empu Keleng juga disebut Wanabaya di Pituruh atau Empu Kasa di Madura. Merupakan adik dari Empu Kuwung. Semua keris nyatanpa pamor, hanya besi dan baja (kelengan). Sewaktu Muda Ia masuk dalam jaman Pajajaran. Keris buatannya berdhapur Sempana dan Jangkung. Ganja mengkurep, tengah bilang diolah bersih. Tombak karyanya : Ron Pring. Ron andhong, Gereh Pethak, Sigar Jantung dan Banyak Angrem. Walaupun tanpa pamor tetapi sangat ampuh, dewasa ini sulit menemukan karya Empu Keleng.
  • Empu Nimbok Sombro : merupakan Empu wanita yang cantik, anak perempuan Empu Manca. Pembuatan tosan aji tanpa api dan peralatan pandai besi. Karya Kerisnya berupa  dhapur Jalak Ngore, Tilam Upih, Sinom, Sepokal. Kebo Teki, Kebo Lajer, ciri-cirinya : ganja mengkurep, gandhik pendek, dhapur yang terkenal : dhapur brojol dengan bekas-bekas pijitan jari dan pesi utiran dengan lubang  di ujungnya. 

Empu-Empu Keris Pusaka Keraton

Empu Keris Pusaka Pada Jaman Kerajaan Majapahit
Sebagian Besar Kerajaan Majapahit merupakan Empu dari Kerajaan Pajajaran dan Empu Wanabaya/Pituruh. Berikut Empu Keris Pusaka pada Jaman Kerajaan Majapahit : 
  • Empu Jigja di Mojolangu, putera Empu Singkir. Hampir semua buatanya mempunyai pesi ngandel meteng. Dhapur keris yang dibuat : Sempaner, Paniwen, Pendhawa, Brojol. Besinya halus dan berpamor. Warnanya hitam seperti ular dumung (Hitam). Ganja menngkurep, sangat ampuh. Jika tombak berdhapur : Kudhup, Totog, Cekel, Sadak Upas, Pecoksahang. Tosan Aji karyanya berwatak ampuh.Yang ketempatan selalu didekati rejeki dan keberuntungan.
  • Empu Angga atau Tapan atau Singkir atau Mendhe, berasal dari Pajajaran. Keris Tilam Upih karyanya berciri gandhik panjang besar (landhung). Ganja pendek, kanan kiri diberi alur (Kruwingan). Pesi pipih. Empu ini terkenal membuat Keris Singkir Air maupun Api. Kebanyakan tosan aji singkir karyanya ini pendek, banyak yang panjangnya hanya satu jengkal saja atau kurang. Tetapi terkenal ampuh.
  • Empu Dhomas : merupakan Empu kraton Majapahit jaman Brawijaya V (1429 Saka) membuat keris dhapur Panimbal, Jaruman, Sepokal, Nagasasra, Butoijo, Mendarang, Sabuk Inten dan Anoman. Ada yang menduga istilah Dhomas dimaksud sebagai kumpulan Empu.
  • Empu Sedhah : merupakan anak dari Empu Kalunglungan dari Blambangan.
  • Empu Supomadrangi : merupakan anak dari Empu Sodhah, kemudian lebih terkenal dengan sebutan Empu Supo atau Empu Jakasupa I, di kemudian hari diangkat menjadi Pengeran Sendhang Sedayu. Empu Supomadrangi juga dikenal dengan sebutan Ki Pitrang di Blambangan. Jadi Supo merupakan Supomadrangi merupakan Jakasupa I merupakan Pangeran Sendhang Sedayu merupakan Ki Pitrang (Blambangan). Jakasupo I beradik Kebodhag dan Supogati. Waktu muda Jakasupa I bertapa di Tuban. Alkisah Prabu Brawijaya sangat sedih karena kehilangan keris Kanjeng Kyai Sumelanggandring sewaktu penyerbuan di Pajajaran. Keris Pusaka itu terbawa oleh Prabu Bayu Sangara dari Blambangan. Raja Brawijaya kemudian memerintahkan mengumpulkan para Empu setanah Jawa, namun tidak ada yang sanggup menemukan Keris Pusaka yang hilang tersebut. Kemudian Jakasupa I diperintahkan mencari dan jika berhasil dijanjikan mendapatkan tanah seluas 500 karya di Tuban dan mendapatkan Puteri Keraton, disamping itu mendapatkan gelar Pangeran. Dalam perjalanannya, Jakasupa ditemani adiknya Supagati dan berganti nama menjadi Ki Pitrang. Mereka berdua sewaktu menuju Blambangan, juga membuat keris dhapur Pandhawa, Sempaner, Carangsoka dan Tilam Upih. Setibanya di Blambangan, ia disebut juga Empu Rambang karena membuat tosan aji di lautan. Rambang berhasil membuat duplikat Kanjeng Kyai Sumelanggandring yang berada di Keraton Blambangan sebanyak 2 buah. Yang tiruan dihaturkan kepada Sang Raja, sedangkan yang asli dibawa pulang Kerajaan Majapahit. Raja Blambangan karena puas menghadiahi Jakasupa I dengan adik perempuannya yang bernama Raden Ayu Upas. Sewaktu hamil 7 bulan, Ia di tinggal pulang ke Kerajaan Majapahit. Setiba di Majapahit, keris pusaka asli itu dikembalikan ke Prabu Brawijaya. Jakasupa kemudian diberi hadiah puteri da tanah di Sedayu. Ia diangkat menjadi pangeran dan kemudian bergelar Pangeran Sendhang Sedayu. Karya Empu Sedayu alias Jakasupa I ini berciri indah tetapi wingit, berpamor sanak, halus, berguwaya lungid hitam, terkadang jika luk kemba (hambar).
  • Empu Supogati : merupakan adik dari Jakasupa I yang ikut ke Blambangan. Sepulang dari sana, Ia mendapat hadiah seorang puteri dan tanah seluas 100 karya dan diberi pangkat mantri. Beliau bermukim di Majapahit dan diberi sebutan Empu Supadi.
  • Empu Jakasura : merupakan anak dari Jakasupa I ketika di Blambangan, kemudian menyusul ayahnya di Majapahit. Sepanjang perjalanan Ia membuat keris dhapur bethok yang diberi lubang agar dapat di renteng dengan tali. Ia berhasil bertemu dengan ayahnya di Sedayu dan diabadikan ke Keraton Majapahit.
  • Empu Dana : merupakan anak dari Empu Pethet. Hanya membuat pedang berpamor tambal.
  • Empu Wanawasa : merupakan anak dari Empu Dana yang kemudian pindah ke Cirebon di Jaman Majapahit. Hanya membuat pedang-pedang pendek.
  • Empu Sokawiyana : merupakan anak dari Empu Wanawasa yang berdiam di Karang. Keryanya hanya berupa pedang pendek, bengkok tetapi sangat tajam. Model pedang ini kemudian ditiru dengan ukuran lebih besar yang kemudian terkenal dengan nama dhapur Sokayana (Sokawiyana).
  • Empu Wangsa di Tembayat pindah dari Tuban. Hidup di jaman Majapahit. Hanya membuat keris Tilam Upih dan Tombak. Anaknya dua : Wanagati dan Surawangsa.
  • Empu Gedhe di Bayumas, merupakan anak dari Empu Loning di Jaman Majapahit. Karyanya berupa keris dhapur Balebang, Brojol, dan Tilam Upih. Ganja : mengkurep, Pemor : penuh, semuanya putih, Besi : Putih, mirip karya Sombro. Jika tombak : dhapur ron pring, sigar jantung, gereh pethek. Diberi menthuk seperti angkup kelopak (kuncup bunga). Sangat bagus untuk pemimpin pamong praja dan militer. Dijaman Sultan Agung, tombak ini banyak disarasah dengan emas.

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

0 comments:

Posting Komentar