Kamis, 20 April 2017

Mengenal Lebih Dalam Keris Pusaka Dhapur Lurus bagian Kedua


Keris lurus tidak sama dengan keris berluk satu, keris lurus tidak memiliki luk. Dalam bahasa Jawa sering disebut dengan istilah "Dhuwung Leres". Bentuk Dhapur keris lurus ini banyak sekali. Terbanyak dibandingkan dengan keris luk manapun, karena banyaknya, pada keris lurus inilah, banyak pula terjadi kesimpangsiuran mengenai nama dhapur. Kesimpangsiuran ini bukan soal sinonim nama dan istilah dari daerah satu dengan daerah lainnya, tetapi juga sampai pada perbedaan mengenai bentuknya.


Sebagaimana dijelaskan di muka, bahwa bentuk keris melambangkan maksud dan permohonan tertentu dari sang Empu, maka keris lurus pun secara umum mempunyai makna dan maksud tertentu pula. Oleh sang Empu, keris lurus dimaksudkan membawa perlambang permohonan pada Tuhan, agar pemilik keris lurus ini nantinya mendapatkan berkah Tuhan, menjadi orang yang teguh hatinya, tidak gampang tergoda, tidak mudah terpikat bujukan, sifat-sifat lugu, wajar, tidak neko-neko, apa adanya, dan mencerminkan kesederhanaan. Sebagian orang juga mengartikan bentuk dhapur keris lurus melambangkan "Ular Bertapa" atau Ulo Tapa.

Di bagian kedua ini, dijelaskan dua puluh dhapur keris lurus dari no 21 s.d 40 :


21. Dhapur Panji Penganten

Ricikan : gandhiknya polos, ukurannya normal, pakai sogokan dua, sraweyan dan rondho nunut. Jadi sepintas lalu mirip sekali dengan keris dhapur Panjinom. Dhapur Panji Penganten ini, tergolong jarang dijumpai, langka.

22. Dhapur Jalak Sangu Tumpeng
Ricikan : gandhik polos, ukuran normal, sogokannya dua, sraweyan dan thingil. Tapi pada keris tua, thingil ini sering sudah aus, sehingga tidak begitu jelas. Keris dhapur Jalak Sangu Tumpeng ini populer karena dipercaya membawa tuah memudahkan mencari rejeki.

23. Dhapur Dungkhul atau Dhukul
Ricikan : tikel alis, gandhik polos, sogokan satu depan, ganja kelap lintah. Biasanya bagian gandhiknya agak lebih panjang dibandingkan dengan dhapur Tilam Upih. Keris berdhapur Dungkul ini punya sifat menentramkan, baik dipakai oleh orang yang pemarah dan suka nekad.

24. Dhapur Kelap Lintah
Ricikan : hampir sama dengan ricikan pada dhapur Brojol, yakni ghandiknya polos, pejeten, tanpa ricikan lain. Tanda  khususnya adalah ganjanya yang berbentuk kelap lintah. Ujung-ujung  ganjanya mencuat ke atas, dhapur Kelap Lintah ini biasa dipakai oleh prajurit atau seorang pemimpin.

25. Dhapur Yuyu Rumpung
Ricikan : gandhik panjang di belakang, panjang sekali, hampir setengah bilah. Bagian yang biasa terdapat gandhik, justru tajam. Ganjanya kelap lintah. Sepintas terlihat seperti pedang dapur Suduk Maru, yang pendek kecil. Dhapur Yuyu Rumpung ini termasuk jarang dan langka.

26. Dhapur Condong Campur
Ricikan : pakai kembang kacang, lambe gajah, sogokannya hanya di depan, tetapi panjang sampai ujung bilah, pada  bagian bilah ada gusennya. Keris dhapur Condong Campur ini, biasanya hanya dimiliki oleh mereka yang menduduki posisi dan jabatan pimpinan, termasuk dhapur keris yang langka.

27. Dhapur Jaga Upa atau Jaka Upa
Ricikan : mirip dengan ricikan Tilam Upih, gandhiknya polos, pejetan, tikel alis dan pakai sogokan dua, pendek, sogokan ini hanya separuh dari panjang sogokan yang normal. Panjang bilahnya juga normal, keris berdhapur Jaka Upa ini, biasanya juga dipakai oleh kalangan prajurit.

28. Dhapur Karna Tinanding
Ricikan : bentuk bilah simetris, tetapi tetap condong ke depan, kembang kacang dua, lengkap dengan lambe gajah dan jalen, memiliki dua sogokan yang simetris. Ganja Karna Tinanding ini tidak memakai sirah cecak , kedua ujungnya meruncing, merupakan buntut yang berbentuk uceng mati.

29. Dhapur Sepang
Ricikan : bentuk bilah juga simetris, tetapi tanpa kembang kacang, tanpa sogokan, jadi kedua tepi bilah pada bagian sor-soran manajam. Ganjanya juga mirip ganja dhapur Karna Tinanding, tetapi ada  beberapa jenis dhapur Sepang yang ganjanya merupakan ganja wilut.

30. Dhapur Regol
Ricikan : bentuk bilah masih tetap simetris dengan dua gandhik polos, pejetannya melebar sehingga gandhiknya sempit, ukuran panjang gandhiknya normal. Selain itu, tanpa ricikan apa-apa. Dhapur Regol ini jarang dijumpai, tergolong langkah. Dhapur Regol biasanya memiliki fungsi sebagai penjaga.

31. Dhapur Jalak Ruwoh atau Jalak Nguwuh
Ricikan : gandhik polos, panjangnya normal, ada thingil, pejetan dan gusen, bagian ada-ada tampak jelas mengalir sampai ke ujung bilah, tanpa tikel alis. Dhapur Jalak Nguwuh ini sering dikelirukan dengan dhapur Tilam Sari. Tergolong dhapur keris yang langka.

32. Dhapur Sempaner atau Sempana Bener
Ricikan : kembang kacang, lambe gajah, jalen, tikel alis dan ri pandhan. Dhapur sempaner ini di daerah jogjakarta ke barat biasa disebut dengan sebutan Sempana saja. Dhapur Sempaner ini sering dijumpai karena jumlahnya relatif cukup banyak. Beberapa dhapur Sempaner tidak hanya pakai ri pandhan, tetapi greneng lengkap.

33. Dhapur Jalak Dhinding
Ricikan : gandhik polos, ukuran normal, pakai pejetan dan thingil serta gusen, tanpa tikel alis. Sepintas lalu dhapur jalak Dhinding ini mirip dengan keris dhapur Tilam Sari. Perbedaan utama terletak pada gusen. Umumnya bilah kerisnya berukuran tebal.

34. Dhapur Jalak Ngore
Ricikan : gandhik polos, pejetan, sraweyan dan greneng, tanpa tikel alis. Dhapur Jalak Ngore inipun mirip dengan Tilam Sari. Bilahnya tipis, dhapur keris ini jarang dijumpai pada keris-keris tua, umumnya bilahnya juga agak tebal.

35. Dhapur Jalak Ngucup Madu atau Jalak Madu
Ricikan : gandhik polos, ukuran normal, pejetan dan greneng, pakai sogokan satu di depan, sogokan ini tidak terlalu dalam dan agak pendek, pakai tikel alis. Jalak Madu juga tergolong dhapur keris yang langka, jarang ditemui.

36. Dhapur Jamang Murup
Ricikan : ghandik polos, ukuran normal, pakai pejetan, sogokan dua tapi pendek, ukuran sogokannya hanya sekitar separuh dari ukuran normal. Ricikan lainnya tak ada, dhapur Jamang Murup banyak dijumpai pada  keris-keris tangguh pajang, keris dhapur ini termasuk juga keris langka.

37. Dhapur Mendarang atau Mundarang
Ricikan : kembang kacang, lambe gajah dua, pakai sogokan dua, jalen, sraweyan dan greneng lengkap. Sepintas lalu mirip dengan dhapur Kala Misani. Dhapur Mundarang ini biasa digunakan oleh prajurit.

38. Dhapur Tumenggung
Ricikan :  kembang kacang, lambe gajah satu, jalen, sraweyan, greneng, tanpa sogokan. Sepintas lalu mirip dengan dhapur Mundarang. Dhapur Tumenggung ini biasa dipakai oleh mereka yang menduduki posisi pimpinan. Tergolong dhapur keris yang langka.

39. Dhapur Pasopati
Ricikan : kembang kacang pogok, lambe gajah dua, sogokan dua, ri pandhan dan gusen. Ada pula pasopati yang tanpa gusen. Ada pula pasopati yang tanpa gusen, biasanya yang  dari tangguh tua. Pada umumnya keris dhapur pasopati bilahnya agak tebal. Dhapur pasopati kebanyakan memang dari tangguh muda.


40. Dhapur Mesem

Ricikan :  lambe gajah dua, kembang kacang, tanpa tikel alis, tanpa sogokan dan bagian belakang juga polos tanpa greneng. Dhapur Musem ini banyak terdapat pada keris tangguh Tuban dan Mataram. Sebagian dhapur Mesem, ujung bilahnya mucuk bung.

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : Mengenal Lebih Dalam Keris Pusaka Dhapur Lurus bagian Kedua

0 comments:

Posting Komentar